Blog List Layout

Berapa tahunkah ghulam ahmad sebagai nabi?

Oleh: RD

Seandainya dia (Muhammad) mengadakan sebagian perkataan atas (nama) Kami, niscaya benar-benar Kami pegang dia pada tangan kanannya (QS.69:44-45)

Kedua ayat ini menegaskan bahwa Alquran itu benar-benar berasal dari Allah SWT, bukan buatan Muhammad, bukan syair-syair yang disusun dan bukan pula khayalan-khayalan yang berasal dari perkataan tukang tenung, karena tidak seorang makhluk pun yang sanggup membuat seperti ayat-ayat Alquran itu. Seandainya Muhammad mengatakan sesuatu tentang Kami dan mengucapkan perkataan yang dikatakannya berasal dari Kami, padahal Kami tidak pernah menyatakan atau mengatakannya, pasti Kami pegang tangan kanannya, untuk menerima hukuman dari Kami. Bagi Allah tidaklah berat dan sukar menghukumnya dengan hukuman yang sangat berat sekalipun, karena Kami Maha Kuasa atas segala sesuatu.
“Memegang tangan kanan” (Al-Akh bil Yamin) adalah ungkapan untuk suatu tindakan yang dilakukan terhadap orang yang berada di bawah kekuasaan seseorang, dengan maksud memberi hukuman kepada orang itu, seperti seorang raja yang melakukan suatu hukuman kepada seorang pemberontak.
Dalam ayat ini dipakai ungkapan tersebut untuk menyatakan bahwa bagi Allah tidak ada suatu keberatanpun untuk melakukan suatu tindakan terhadap Muhammad, kalau Muhammad mengadakan sesuatu yang tidak benar terhadap Nya, sebagai hukuman baginya, bagaimanapun beratnya hukuman itu.
Ayat ini juga mengisyaratkan bahwa seandainya Alquran itu buatan Muhammad, pasti akan ditolak oleh manusia dan Muhammad akan gagal dalam melaksanakan dakwahnya. Kenyataan yang terjadi adalah sebaliknya. Muhammad diterima oleh orang-orang beriman karena mereka percaya akan kebenaran Alquran itu. Dan ternyata pula bahwa agama Islam semakin hari semakin berkembang.
Pada ayat berikutnya,”Kemudian benar-benar Kami potong urat tali jantungnya.”(QS.69:46)

Ungkapan “Kami potong urat tali jantungnya” bukan berarti Allah akan turun ke bumi untuk menghukum seseorang tetapi Allah akan memberi pelajaran bagi siapa saja yg berdusta tanpa bersusah payah turun menemui manusia. Jika ayat ini dikaitkan dengan nabi palsu, seseorang yang mengaku nabi tetapi ternyata berbohong atas perkataannya maka kenabiannya tidak berlangsung lama. Dalam sejarah Allah tidak pernah turun dari langit memotong urat tali jantung nabi palsu.Kaum muslimin pasti mengenal nabi palsu ghulam ahmad! Menurut penuturan salah satu buku ahmadiyah kenabian beliau lebih dari 23 tahun, salah satu buku yang memuat penuturan tsb bisa dilihat dibawah ini:

(Sumber: “Penjelasan Jemaat Ahmadiyah Indonesia, Lampiran VI, hal 2, Jemaat Ahmadiyah Indonesia, 1995)
Dalam buku Ahmadiyah tsb tertulis jelas bahwa orang yang mendakwakan dirinya sebagai Nabi dan Rasul, ia harus sekurang-kurangnya 23 tahun.
Apakah kenabian Ghulam Ahmad lebih dari 23 tahun nanti kita buktikan. Kita coba lihat buku lainnya.

Dalam hal 87 tertulis seperti ini:
Ketahoeilah pembatja jang terhormat, bahwa oesia Hazrat Mirza Ghoelam Ahmad lebih dari 23 tahoen, bahkan sampai 34 tahoen, terhitoeng dari moelai da’wa sampai wafatnja.

Setelah melihat beberapa buku diatas, sekarang kita bandingkan dengan buku Ahmadiyah lainnya. Apakah terbukti bahwa kenabian Ghulam Ahmad itu lebih dari 24 tahun dan bahkan sampai 34 tahun…..ataukah dusta belaka.

(Sumber:  “Riwayat Hidup Ahmad” oleh Mirza Bashiruddin Mahmud Ahmad)

Sampai tahun 1880 dibuku tsb Ghulam Ahmad belum mendakwakan diri sebagai Nabi.
kita teruskan kelanjutannya….

ternyata tahun 1891 pun Ghulam Ahmad belum mendakwakan diri sebagai Nabi dan Rasul tetapi beliau hanya mendakwakan sebagai Masih Mau’ud (Isa yang dijanjikan). Sampai akhir dari buku ini, tidak satupun dengan jelas dan tegas menceritakan pada tahun berapa beliau(MGA) mendakwakan diri sebagai Nabi dan Rasul.

Mungkin para pembaca penasaran pada tahun berapa menyatakan Ghulam Ahmad dianugerahi pangkat kenabian secara zilli dan ummati. Bisa dilihat buku dibawah ini:

(Sumber: “Da’watul Amir” Oleh Mirza Bashiruddin Mahmud Ahmad, Jemaat Ahmadiyah Indonesia, 1989.)

Ternyata Ghulam Ahmad menyatakan dianugerahi pangkat kenabian dan kerasulan secara zilli dan ummati baru pada Tahun 1901….ini berarti umur kenabian beliau hanya 7 (Tujuh) tahun saja karena Ghulam Ahmad wafat pada tahun 1908. Sudah sangat jelas bukti nyata dari penjelasan buku “Da’watul Amir” tsb kita bisa mengambil kesimpulan bahwa Ghulam Ahmad adalah Nabi Palsu.

Kenabian Terakhir dalam Pandangan Riwayat-Riwayat

Oleh :  CK

Riwayat Imam Ali

“….Allah SWT untuk memenuhi janjinya dan menyempurnakan serta mengakhiri kenabian mengutus Muhammad SAW…”(Nahj al-Balaghah, khobtah pertama)
Amirul mukminin Ali berkata:”…Rasulullah SAW adalah manusia terpercaya untuk menerima wahyu Allah, penutup, dan nabi terakhir penyampai berita gembira atas rahmat Allah, dan pembawa ancaman akan kemurkaan-Nya…”.(Nahj al-Balaghah, Khotbah ke-168)

Imam Ali pada sebagian pembuktian beliau pada orang-orang yang menentang berkata,”Adapun Rasulullah SAW beliau adalah penutup para nabi, tidak ada nabi setelahnya, dan tidak pula seorang rasul. Dengan kehadiran Rasulullah SAW, kerasulan dan kenabian telah berakhir samapi hari kiamat”.(Kitab Suilamin bin Qais, hal.97; Al-Ihtijaj, jil1, hal.220)
Amirul mukminin ketika mengawali khotbahnya berkata “…..dan aku bersaksi bahwa Muhammad SAW adalah Rasulullah, penutup para nabi, dan bukti Allah bagi seluruh alam”.(Al-Wafi jil.14, hal.11)

Riwayat Fatimah Zahra
Fatimah Zahra dalam beberapa do’anya mengungkapkan,”Ya Allah, sampaikan shalawat dansalam pada Nabi muhammad dan keluarganya dengan shalawat yang disaksikan oleh nabi-nabi terdahulu pada nabi termulia, pemimpin orang-orang bertakwa, penutup para nabi, penyeru kebaikan dan kuci rahmat-Mu”.(Miqbas al-Mashabih, hal.113)

Riwayat Imam Hasan Mujtaba
Imam Hasan al-Mutjaba dalam sebuah khotbah menjelaskan,”Aku adalah putra nabi Allah….aku adalah putra penutup para nabi, pemimpin para rasul”(Maqtal, Kharazmi, jil.1 hal.126)

Riwayat Imam Husain

Imam Husain dalam do’a Arafah berkata,”Segala puji bagi Allah sebanding dengan pujian para malaikat terdekat-Nya, para nabi yang telah diutus-Nya. Semoga shalawat tertuju pada pilihan-Nya yaitu Muhammad SAw penutup para nabi, dan juga pada keluarganya yang suci dan tulus”.(Al-Iqbal, hal.343)
Dalam syair-syairnya Imam Husain berkata,”Ayahku adalah Ali dan Kakekku adalah penutup para nabi. Manusia-manusia yang menerima agama Allah dengan kerelaan sebelumku”.(Kasy al-Ghummah, jilid.2, hal 213; Bihar al-Anwar, jil.78, hal.125).

Riwayat Imam Ali Zainal Abidin

Imam Ali Zainal Abidin dalam do’a berdo’a,”Ya Allah, sampaikan shalawat pada Muhammad SAW penutup paran bai dan penyempurna seluruh utusan Allah.(Shahifah as-sajjadiyah, Do’a ke 17)
“Ya Allah, gabungkanlah diriku bersama al-Musthafa Muhammad SAW dan keluarganya. Manusia pilihan-Mu diantara makhluk-makhluk-Mu, penutup para nabi”.(Al-kafi, jilid 1, hal.177; Al Wafi, jilid 2 hal.19)

Riwayat Imam Muhammad Baqir

Imam Baqir berkata,”Sungguh Allah SWT telah mengakhiri  kitab-kitab langit dengan kitab kalian(Al-Qur’an) dan mengakhiri para nabi dengan nabi kalian (Muhammad SAW)”.(Al-kafi, jilid 1, hal.177; Al Wafi, jilid 2 hal.19)
Imam Muhammad Baqir dalam do’a harian bulan Ramadhan berdo’a,”Ya Allah, Tuhan fajar dan malam yang sepuluh….dan Tuhan Penutup para nabi, sampikanlah shalawat kepadanya…”.(Al-Iqbal hal.91)

Riwayat Imam Ja’far Shadiq

Zurarah berkata,”Aku bertanya pada Imam Shadiq  mengenai halal dan haram. Beliau menjawab,”Apa yang telah dihalalkan oleh Muhammad SAW maka akan halal selamanya sampai hari kiamat. Tidak ada selainnya dan tidak ada nabi lain setelahnya”.(Al-Kafi, jil.1, hal.57)
Ismail bin Jabir berkata,”Aku mendengar Abu Abdillah Ja’far bin Muhammad as-Shadiq berkata,”Sesungguhnya Allah SWT mengutus Muhammad dan mengakhiri dengannya para nabi terdahulu. Tidak ada nabi setelahnya dan Allah SWT menurunkan baginya kitab (al-Qur’an) dan dengannya diakhiri kitab-kitab sebelumnya. Maka, tidak ada kitab setelah al-Qur’an. Telah ditetapkan didalamnya kehalalan dan keharaman. Maka samapi hari kiamat dan yang telah diharamkan akan tetap haramsampai hari kiamat….”.(Tafsir Nu’mani hal.3; Al mizan, jilid 3, hal.81)
Ayub bin alhur berkata,”Aku mendengar Imam Shadiq berkata,”sesungguhnya Allah SWT mengakhiri para nabi dengan nabi kalian maka tidak ada nabi setelahnya dan mengakhiri kitab-kitab langit dengan kitab kalian (al-qur’an) maka tidak ada kitab sesudahnya. Al-Qur’an diturunkan sebagai penjelas segala sesuatu…”.(Al-Wafi, juz 2 dari jilid pertama ha.144)
Ashim bin Hamid berkata,”Imam Ja’far Shadiq berkata,”Jika diantara kalian memiliki kepentingan, berpuasalah…kemudian menyebutkan do’a yang panjang, yang dalam do’a tersebut disebutkan do’a seperti ini,”Ya Allah, aku mendekatkan diriku pada-MU dengan perantara nabi-Mu, rasul-Mu, dan kekasih-Mu, penutup para nabi, pemimpin para rasul dan imam orang-orang yang bertakwa”.(Itsbat al-Hudat,jilid 2 hal.472)

Riwayat Imam Musa Kazhim
Ali bin Ritsab meriwayatkan bahwa hamba yang saleh (Imam Musa bin ja’far) berkata,”Berdo’alah dengan do’a ini dari bulan Ramadhan tahun mendatang. Ya Allah, Tuhan tujuh lapisan langit dan tujuh lapisan bumi serta segala sesuatu yang berada diantaranya,….Tuhan Muhammad SAW dan keluarganya, pemimpin para rasul, penutup para nabi…”.(al-Kafi, jilid 4 hal.72; al-Faqih, jilid 2, hal.103)

Riwayat Imam Ali Ridha

“Segala puji bagi Allah dengan pujian yang ada dalam kitab-Nya, yang membuka kitab-Nya dengan pujian,  Shalawat dan salam semoga tercurah pada Muhammad SAW penutup paran nabi, manusia terbaik, dan juga kepada keluarganya, keluarga yang dipenuhi rahmat pohon kenikmatan…”.(‘Uyun Akhbar ar-Ridha, jilid 1, hal.87)
Imam Ali ridha dalam sebuah tulisan yang menjelaskan tentang ringkasan agama Islam, beliau menulis,”Sesungguhnya, ringkasan dan hakikat Islam adalah bersaksi dan meyakini bahwa tidak ada Tuhan selain Allah, Zat Yang Esa, tiada sekutu bagi-Nya, dan bersaksi serta meyakini bahwa Nbai mUhammad SAW adalah hamba-Nya dan utusan-Nya serta kepercayaan-Nya, penutup para nabi, dan manusia paling utama diseluruh alam. tidak ada nabi setelahnya”.(‘Uyun Akhbar ar-Ridha, jilid 2, hal.121-122)
Imam Ali Ridha dalam sebuah riwayat berkata,”Sehingga risalah kenabian berakhir pada al-Mushthafa, Muhammad SAW dan diakhiri para nabi dengannya, dan beliau berada dalam rangkaian para nabi. Beliau diutus sebagai rahmat bagi seluruh alam…”.(‘Uyun Akhbar ar-Ridha, jilid 2, hal.154)
Dalam naskah pengangkatan Makmun sebagai waliy al-‘ahd yang dibacakan oleh Imam Ali Ridha beliau berkata,”Segala puji bagi Allah yang berbuat dengan kehendaknya…Shalawat dan salam Allah tertuju pada nabi-Nya, Muhammad SAW penutup para nabi, dan keluarganya yang suci serta mulia..”.(Manaqib Mazandarani, jil 4, hal 364; Kasyf al-Ghummah, jil 3, hal.177)

Riwayat Imam Muhammad Jawad
Disebagian do’a Imam Muhammad Jawad disebutkan,”Dengan nama Allah Zat Yang Perkasa dalam urursan, Agung dalam pembuktian, kokoh dalam kekuasaan, Segala yang dikehendaki, maka terjadi, dan yang tidak dikehendaki makan tidak akan terjadi. Aku bersaksi bahwa Nuh adalah utusan Allah, Ibrahim adalah Khalilullah, Musa adalah Kalimullah, dan Isa putra Maryam adalah Ruhullah dan kalimat-Nya. Dan aku bersaksi bahwa Muham SAW adalah penutup para nabi, tidak ada nabi setelahnya”.(Bahj ad-Da’awat, hal.40; Bihar al-Anwar, jil.93 hal.359)

Riwayat Imam Ali Hadi
Imam Ali bin Muhammad al-Hadi dalam do’a ziarahnya dengan do’a,”Salam sejahtera bag Muhammad Rasulullah SAW penutup para nabi, pemimpin para rasul, dan pilihan Tuhan semesta alam…penutup atas nabi-nabi terdahulu, dan pembuka keberkahan di masa mendatang..”.(Bihar al-Anwar, hal.360)

Kenabian Terakhir dalam Pandangan Para Ahli

Oleh : TN

Pendapat Para Ahli tentang Makna khaatam:

Ibnu Faris, salah seorang ulama besar dalam Ilmu Bahasa berpendapat bahwa makna asli dari khaatam adalah mengakhiri sesuatu. Dalam bahasa Arab disebutkan Khatamtul ‘amala bermakna “aku menyelesaikan pekerjaan”. Demikian pula jika menyatakan khatamal qari’u ash-shurata berarti “pembaca al-Qur’an mengkhatamkan (menuntaskan) surah yakni ia membaca surah tersebut sampai akhir. Dengan demikian, kata khaatam bermakna “menutup sesuatu” karena pekerjaan terakhir dalam menjaga sesuatu adalah dengan jalan menutup wadah atau tempatnya. Kata khaatam baik dengan hutuf ta yang berharakat fathah maupun kasrah bermakna demikian karena sudah menjadi kebiasaan mengakhiri surat atau tulisan dengan stempel atau cincin yang menjadi stempel. Mengecap surat berarti bahwa surat tersebut telah berakhir. Nabi Muhammad SAW disebut sebagai khaatamul anbiya karena Nabi terakhir utusan Allah dan yang dimaksud dengan khitamuhu misk yang disebutkan dalam al-Qur’an adalah sesuatu yang terakhir yang tercium ketika meminum minuman tersebut adalah wangi kesturi. (Sumber: Al-Maqayis, huruf kha, ta, mim)

Abul Baqa ‘Akbari salah seorang ulama terkenal terkait ayat walakin Rasulullahi wa khaataman nabiyyiin berpendapat bahwa khaatama dengan huruf ta berharakat fathah atau dalam bentuk fi’il madhi merupakan bentuk mufa’alah yakni Nabi Muhammad SAW mengakhiri para utusan illahi. Demikian pula, para ahli lainnya berpendapat bahwa khaatam dengan huruf ta yang berharakat fathah adalah bermakna akhir atau terakhir. Ataupun ahli lain yang mengatakan bahwa kata tersebut adalah khaatamun nabiyyin bermakna maktumbihi annabiyun (Nabi-nabi diakhiri dengannya) maka bermakna “Nab-nabi utusan Allah diakhiri dengan Nabi Muhammad SAW. Kemungkinan diatas adalah jika huruf ta pada kata khaatam berharakat fathah. Adapun jika huruf ta dibaca dengan berharakat kasrah sebagaimana enam orang qurra sab’ah membacanya tetaplah bermakna “akhir atau terakhir”. Kesimpulannya, kemungkinan yang telah disebutkan, ayat diatas bermakna Muhammad SAW adalah Nabi terakhir utusan Allah dan tidak ada Nabi sepeninggal beliau. (Sumber: At-Tibyan i Irab al-Qur’an, jilid 2, hal.100)
Fairuz abadi, didalam kamusnya, menyebutkan khaatam bermakna “mengecap”. dalam bahasa Arab disebutkan khaatama ‘ala qalbihi bermakna “hatinya mengalami sesuatu sehingga ia tidak memahami dan kekotoran jiwa tidak keluar dari ruhnya” bagaikan botol yang telah ditutup yang tidak mungkin keluar sesuatu yang ada didalamnya dan tidak ada sesuatu yang bisa masuk kedalamnya. Jika dikatakan khaatama syay-u yaitu mencapai akhir sesuatu. (Sumber: Qamus al-Lughah, jilid 4, hal 102)
Jauhari dalam kamusnya menuliskan bahwa kata khaatam bermakna “sampai pada akhir” dan kata akhtatimu adalah lawan kata dari kata aftatihu yang bermakna memulai, mengawali, dan membuka. Sementara kata akhtatimu bermakna “mengakhiri atau menutup”. Kata khaatam baik dengan huruf ta yang berharakat fathah maupun kasrah memiliki arti yang sama. Kata khaatimatu syai yaitu akhir sesuatu dan kata khaatamul anbiya merupakan julukan Rasulullah SAW. (Sumber: Muktar ash-shihah, hal.130)
Ibnu Manzhur dalam kamus besarnya menuliskan bahwa khitamul qaum yaitu orang terakhir pada suatu kaum dan kata khaatam meruapakan salah satu julukan Rasulullah SAW sementara kata khaatamun nabiyyin dalam ayat walakin Rasulullahi wa khaataman nabiyyiin bermakna “Nabi terakhir”. (Sumber: Lisanul Arab, jilid 5 hal.55)
Abu Muhammad Damiri dalam Nzdzam berkata, khaatim dengan huruf ta yang berharakat kasrah bermakna “penutup”. (Sumber: At Taisir fi ‘ulumil Quran, hal.90)
Baidhawi seorang ahli tafsir terkenal berpendapat bahwa khaatamun nabiyyin bermakna “Nabi terakhir yang mengakhiri nabi-nabi utusan Allah”. Jika kita membaca sesuai dengan  qiraat ‘ashim yaitu dengan harakat fathah pada huruf ta, maka berarti “seorang nabi yang mengakhiri atau menutup rangkaian para nabi utusan Allah” sebagaimana sebuah surat dicap atau distempel ketika selesai. (Sumber: Anwar at-Tanzil. hal.342)
Raghib Isfahani dalam kamusnya al-mufradat menuliskan bahwa dalam bahasa arab, ketika mengucapkan khaatamul qur’an berarti “aku menyelesaikan al-Qur’an yakni membacanya sampai akhir”. Rasulullah SAW disebut sebagai khaatamun nabiyyin karena beliau mengakhiri kenabian yaitu dengan kedatangan beliau pintu kenabian tertutup.
Ibnu Khaldun seorang filosof dan ahli sejarah ternama dalam Muqaddimah menjelaskan bahwa mengecap surat atau surat-surat penting lain sangat membudaya dan terkenal di kalangan para pembesar sebelum Islam dan sesudah Islam. Bukhari dan Muslim dalam kitab shahih meriwayatkan ketika Rasulullah SAW ingin menulis sepucuk surat untuk penguasa romawi, para sahabat mengingatkan beliau dan berkata,”Penguasa Romawi tidak akan menerima surat yang tidak dicap. Rasul memerintahkan, untuk membuat cincin dari perak yang diatasnya bertuliskan Muhammad Rasulullah. Sejak saat itu, surat-surat beliau SAW dicap dengan cincin tersebut. Kemudian, Ibnu Khaldun melanjutkan dalam bahasa arab saat menyatakan khaatamtul amra artinya “aku mengakhirinya”. Begitu pula jika dikatakan khaatamtul qur’an maka berarti “aku membaca al-Qur’an hingga akhir. Khaatamun nabiyyin bermakna “Nabi terakhir”. Beliau juga menambahkan, mengecap surat dengan stempel atau cincin menandakan bahwa surat telah selesai dan maksud penulis telah berakhir serta menandakan kebenaran isi surat tersebut. Jika surat atau dokumen tidak memiliki stempel maka berarti belum selesai dan tidak berarti.

Kenabian Terakhir berdasarkan Tafsir

Oleh: TN

Dalam kitab-kitab yang mu’tamad, arti “khataman Nabiyyin” adalah:

Dalam Tafsir Khazen, pada jilid V, halaman 218 arti “khataman Nabiyyin” ialah: Kenabian telah tertutup, tak ada lagi nabi sesudah beliau”.
Dalam Tafsir Nasaffi pada jilid III, halaman 2 artinya:”akhir Nabi, tiada seorang juga lagi Nabi sesudah beliau”.
Dalam Tafsir Ibnu Katsir, pada jilid III, halaman 493 artinya:”Nabi tidak ada lagi sesudah Nabi Muhammad SAW, begitu juga Rasul tidak ada lagi”.

Dalam Tafsit Jalalain yang dicetak bersama Tafsir Shawi pada jilid III, halaman 263 artiinya ayat itu adalah:”dengan Nabi Muhammad SAW disudahi Nabi-nabi”.
Dalam Tafsir al Qasimi pada jilid XIII, halaman 4867diterangkan “khataman Nabiyyin” boleh juga dibaca khatiman Nabiyyin, yang artinya:”Disudahi Nabi-nabi dengan Nabi Muhammad SAW”.
Dalam Tafsir Baidhawi pada jilid ke II, halaman 196 arti ayat itu adalah:”Nabi Muhammad itu Nabi paling akhir yang penutup Nabi-Nabi”.
Dalam Tafsir Thabari, pada jilid ke XXII halaman 16, artinya “khaataman Nabiyyin” ialah Nabi Penutup, tidak dibuka lagi pangkat kenabian sampai hari kiamat”.
Dalam Tafsir Jamal Jalalein, pada jilid ke III, halaman ke 4, arti “khataman Nabiyyin” ialah: Tidak ada anak laki-laki yang ditinggalkannya yang akan jadi Nabi, dan Tuhan mengetahui tiap-tiap sesuatu tentang Nabi dan bahwa Nabi tidak ada sesudah beliau”.
Dalam Tafsir Lubabut Ta’wil jilid ke II halaman 505:”Allah Menutup  dengan beliau pangkat kenabian, maka tak ada kenabian dibelakangnya dan juga tidak bersama-sama dengan dia”.
Dalam Tafsir Durarul Mantsur, Jilid ke VII, pagina 204:”khataman Nabiyyin”=akhir Nabi-Nabi
Dalam Tafsir Nisaburi, Juz XXII, halaman 15:”diantara yang diberitahu oleh Nabi, bahwasanya Nabi tidak ada sesudah Muhammad”.
Dalam Tafsir Fakhrul Razi Jilid ke VI halaman 518:”Ilmu Tuhan mengetahui bahwa Nabi tidak ada lagi sesudah beliau”.
Dalam Tafsir Abi Su’ud, jilid ke VII, halaman 449:”Nabi Muhammad Nabi paling akhir”
Dalam Tafsir Bahrul Muhith, jilid ke VII, halaman 236: “Diriwayatkan dari Nabi bahwasanya Nabi tidak ada sesudahnya”

(Sumber: “40 Masalah Agama”, K.H.Siradjuddin Abbas, Jilid II hal.69, Pustaka Tarbiyah Jakarta).

LAMPIRAN

TAFSIR AHMADIYAH:

Sumber Lampiran : Disini

LAMPIRAN 2

BUKU-BUKU AHmADIYAH

Sumber: “Jawaban Seruan Kepada Ahmadiyah”, Rukhdiyat Ayyubi Ahmad

Sumber: “Da’watul Amir, Mirza Bashiruddin Mahmud Ahmad, hal 152

Sumber: “MENGHAPUS SUATU KESALAHPAHAMAN (Ek Ghalati Ka Izala)” Oleh: Mirza Ghulam Ahmad Alih bahasa: M. A. Suryawan.


Sumber: “Khabar Suka”, Mahmud Achmad cheema, Hal 18

Sumber: http://islamic.us.to

Tafsir Surat As Shaff Ayat 7

Oleh: ZK


وَمَنْ أَظْلَمُ مِمَّنِ افْتَرَى عَلَى اللَّهِ الْكَذِبَ وَهُوَ يُدْعَى إِلَى الإسْلامِ وَاللَّهُ لا يَهْدِي الْقَوْمَ الظَّالِمِينَ

Dan siapakah yang lebih lalim daripada orang yang mengada-adakan dusta terhadap Allah sedang dia diajak kepada agama Islam? Dan Allah tiada memberi petunjuk kepada orang-orang yang lalim.(QS.61:7)

Pendapat Ahmadiyah:
Kata “Dia” kembali kepada Ahmad yaitu Mirza Ghulam Ahmad dan Dia (Mirza Ghulam Ahmad) seolah-olah tidak Islam sehingga diajak/dipanggil kepada Islam

Pendapat dari Kami:
Pertama:
Yang dimaksud orang yang membuat-buat kebohongan terhadapat Allah dan ia dia dipanggil kepada Islam ialah orang yang menolak kebenaran, yang menyebut kebenaran itu sihir, sebagaimana diterangkan dalam kata penutup ayat sebelumnya, dan diterangkan pula dalam kata-kata berikut ini: Dan Allah tidak memberi petunjuk kepada kaum yang lalim/zalim. Orang-orang inilah yang diseru kepada Islam, sedangkan Rasulullah SAW adalah penyerunya, sebagaimana diterangkan di tempat lain dalam Al-Qur’an. Lihatlah misalnya Firman Allah dalam Surat Ali ‘Imran 93 yang berbunyi:


رَبَّنَا إِنَّنَا سَمِعْنَا مُنَادِيًا يُنَادِي لِلإيمَانِ أَنْ آمِنُوا بِرَبِّكُمْ فَآمَنَّا رَبَّنَا فَاغْفِرْ لَنَا ذُنُوبَنَا وَكَفِّرْ عَنَّا سَيِّئَاتِنَا وَتَوَفَّنَا مَعَ الأبْرَارِ

Ya Tuhan kami, sesungguhnya kami mendengar (seruan) yang menyeru kepada iman (yaitu): “Berimanlah kamu kepada Tuhan-mu”, maka kami pun beriman. Ya Tuhan kami ampunilah bagi kami dosa-dosa kami dan hapuskanlah dari kami kesalahan-kesalahan kami, dan wafatkanlah kami beserta orang-orang yang berbakti.(QS. Ali ‘Imran 193).

Dan Firman Allah lainnya dalam Surat Thaahaa 108 berbunyi:


يَوْمَئِذٍ يَتَّبِعُونَ الدَّاعِيَ لا عِوَجَ لَهُ وَخَشَعَتِ الأصْوَاتُ لِلرَّحْمَنِ فَلا تَسْمَعُ إِلا هَمْسًا

Pada hari itu manusia mengikuti (menuju kepada suara) penyeru dengan tidak berbelok-belok; dan merendahlah semua suara kepada Tuhan Yang Maha Pemurah, maka kamu tidak mendengar kecuali bisikan saja.(QS.2:108).

Kepercayaan musyrik itulah yang berungkali disebut bikin-bikinan dalam Al-Qur’an, seperti misalnya dalam Firman Allah dalam Surat Al An’aam 138-139 yang berbunyi:


وَقَالُوا هَذِهِ أَنْعَامٌ وَحَرْثٌ حِجْرٌ لا يَطْعَمُهَا إِلا مَنْ نَشَاءُ بِزَعْمِهِمْ وَأَنْعَامٌ حُرِّمَتْ ظُهُورُهَا وَأَنْعَامٌ لا يَذْكُرُونَ اسْمَ اللَّهِ عَلَيْهَا افْتِرَاءً عَلَيْهِ سَيَجْزِيهِمْ بِمَا كَانُوا يَفْتَرُونَ
وَقَالُوا مَا فِي بُطُونِ هَذِهِ الأنْعَامِ خَالِصَةٌ لِذُكُورِنَا وَمُحَرَّمٌ عَلَى أَزْوَاجِنَا وَإِنْ يَكُنْ مَيْتَةً فَهُمْ فِيهِ شُرَكَاءُ سَيَجْزِيهِمْ وَصْفَهُمْ إِنَّهُ حَكِيمٌ عَلِيمٌ

Dan mereka mengatakan: “Inilah binatang ternak dan tanaman yang dilarang; tidak boleh memakannya, kecuali orang yang kami kehendaki” menurut anggapan mereka, dan ada binatang ternak yang diharamkan menungganginya dan binatang ternak yang mereka tidak menyebut nama Allah di waktu menyembelihnya, semata-mata membuat-buat kedustaan terhadap Allah. Kelak Allah akan membalas mereka terhadap apa yang selalu mereka ada-adakan.Dan mereka mengatakan: “Apa yang dalam perut binatang ternak ini adalah khusus untuk pria kami dan diharamkan atas wanita kami,” dan jika yang dalam perut itu dilahirkan mati, maka pria dan wanita sama-sama boleh memakannya. Kelak Allah akan membalas mereka terhadap ketetapan mereka. Sesungguhnya Allah Maha Bijaksana lagi Maha Mengetahui.(QS. Al An’aam 138-139).
Atau yang diseru kepada kebenaran ialah kaum kafir seperti kaum kristen karena mereka juga membuat kebohongan terhadap Allah dengan ucapan mereka bahwa Nabi Isa adalah putera Allah, dan bahwa beliau bisa menebus dosa mereka.

Kedua:
Menurut tata bahasa arab (nahwu shorof) kata هُوَ adalah kata ganti orang ketiga (Dhomir Ghooib) dimana disini huruf وَ pada kalimatوَهُوَ adalah Wawu Haal dan bukan  Wawu Athaf sehingga Dhomir هُوَ kembali kepada Shahibul Haal yaitu orang yang mengadakan dusta terhadap Allah atau orang kafir. Sehingga Orang kafir yang belum beragama Islam diajak kepada Agama Islam. Kata “هُوَ” (kata ganti orang ketiga/Dhomir Ghooib) tidak pernah sekalipun diartikan Dia seolah-olah tidak Islam. Jika pihak ahmadiyah memberi arti sebagaimana pengertian tersebut maka semua kata هُوَ/ “Dia” dalam Al-Qur’an seluruhnya juga harus diartikan pula “Dia seolah-olah tidak Islam”. Akal anda menerima hal ini?

Ketiga:
Pihak non ahmadi tidak pernah sekalipun beranggapan kata هُوَ/ “Dia” dalam Surat As shaff ayat 7 ini adalah Ahmad/Muhammad SAW karena seperti yang diterangkan pada penjelasan kedua bahwa huruf wawu dalam surat tersebut bukanlah wawu athaf akan tetapi wawu haal.

Keempat:
Orang yang sudah beragama Islam seperti Mirza Ghulam Ahmad tidak mungkin diajak/diseru kembali kepada Islam. Orang yang diajak/diseru kepada Islam hanyalah orang-orang yang belum beragama Islam yaitu orang kafir.

Semoga apa yang ditulis ini berguna bagi Anda semuanya

Tafsir Ash-shaff Ayat 9

Oleh : ZK


هُوَ الَّذِي أَرْسَلَ رَسُولَهُ بِالْهُدَى وَدِينِ الْحَقِّ لِيُظْهِرَهُ عَلَى الدِّينِ كُلِّهِ وَلَوْ كَرِهَ الْمُشْرِكُونَ

Dia-lah yang mengutus Rasul-Nya dengan membawa petunjuk dan agama yang benar agar Dia memenangkannya di atas segala agama-agama meskipun orang-orang musyrik benci.(QS.61:9)


Ayat ini memiliki kesamaan pada ayat berikut:
Dia-lah yang mengutus Rasul-Nya dengan membawa petunjuk dan agama yang hak agar dimenangkan-Nya terhadap semua agama. Dan cukuplah Allah sebagai saksi.(QS Al Fath 48:28).

Penjelasan:
Dalam ayat ini ditegaskan kebenaran Muhammad sebagai Rasul yang diutus Allah SWT. kepada manusia dengan menyatakan, Dia-lah Rasul Allah yang diutus-Nya membawa petunjuk dan agama Islam sebagai pengganti agama-agama dan syariat yang telah dibawa oleh para Rasul sebelumnya, menyatakan kesalahan dan kekeliruan akidah-akidah agama dan kepercayaan yang dianut manusia, yang tidak berdasarkan agama dan untuk menetapkan hukum-hukum yang berlaku bagi manusia sesuai dengan perkembangan zaman, perbedaan keadaan dan tempat. Hal ini juga berarti dengan datangnya agama Islam yang dibawa Muhammad itu, maka agama-agama yang lain tidak diakui lagi sebagai agama yang sah di sisi Allah.
Kalimat “agama yang benar” itu terjemahan dari وَدِينِ الْحَقِّ . Dua kata arab ini bukan terdiri dari sifat dan yang disifati karena didalam kata دِينِ itu tidak ada “al”-nya. Oleh karena itu, dua kata itu terdiri dari mudhof & mudhof ilahi yang menyimpan kata min/dari. Kata الْحَقِّ yang menjadi mudhof ilaihi itu adalah tertuju kepada Alllah yang Maha Benar. Jadi agama yang dibawa oleh Nabi Muhammad SAW itu berasal dari dari Allah yang Maha Benar yang tentunya setiap ajarannya juga berasal dari-Nya. Sehingga perantaraan yang mana, maka pengertian-pengertian setiap ajaran yang salah yang sudah masuk ke dalam ajaran-ajaran Agama Allah yang sebelum itu dapat diketahui sejelas-jelasnya. Atas dasar pengertian-pengertian yang salah tersebut maka ketika itu orang-orang yahudi menolak terhadap kerasulan Nabi Muhammad SAW. Apabila pengertian-pengertian yang salah selama ini, dapat dijadikan pelajaran bagi kaum muslimin yakni apabila pengertian-pengertian yang salah selama ini ada pada mereka terhadap ajaran-ajaran Allah yang ada dalam Al-Qur’an itu dibenarkan maka hendaklah mereka jangan bersikap seperti sikapnya orang-orang yahudi itu. tetapi sebaliknya hendaklah mereka mendengarkan dengan baik menggunakan akal sehat dan hati nuraninya, sehingga akhirnya mereka dapat menerima yang benar dan menyingkirkan yang salah.

Pada akhir ayat ini, dinyatakan bahwa semua yang dijanjikan Allah kepada Rasulullah saw dan kaum Muslimin itu pasti terjadi dan tidak ada sesuatu pun yang dapat menghalangi terjadinya.

Jadi anggapan Ahmadiyah bahwa ayat ini mengisyaratkan datangnya mahdi dan isa adalah anggapan yang salah. Penjelasan diatas menafikan pendapat ahmadiyah tersebut.

Kepalsuan Hadits Ahmadiyah tentang Gerhana

Segala puji bagi Allah semoga shalawat dan salam tercurah kepada Nabi akhir zaman Muhammad bin Abdillah kepada para keluarganya, sahabatnya dan para pengikutnya hingga hari kiamat. Amma ba’du:

Kita mungkin pernah membaca atau mendengar dalil yang selalu didengungkan oleh kelompok Ahmadiyah Qadiyani untuk membuktikan kebenaran kenabian Mirza Ghulam Ahmad seperti yang beredar di situs maupun buku-buku ahmadiyah tentang hadits gerhana.

Kepalsuan hadits gerhana tersebut:

Hadits yang diriwayatkan didalam sunan Ad-Daruquthni dalam bab Shalat Kusuf dan Khusuf dan mereka mengklaim bahwa peristiwa itu terjadi dizaman Ghulam Ahmad.

Hadits ini diriwayatkan oelh Imam Ad-Daruquthni dalam Sunannya dengan nomor (1816) beliau berkata: telah menceritakan kepada kami Abu Sa’id Al-Ashtharkhi: telah menceritakan kepada kami Muhammad bin Abdillah bin Naufal: telah menceritakan kepada kami ‘Ubaid bin Na’isy: telah menceritakan kepada kami Yunus bin Bukair dari ‘Amru bin Syamir dari Jabir dari Muhammad bin ‘Ali berkata: Sesungguhnya Mahdi kami memiliki dua tanda yang belum pernah terjadi sejak diciptakan langit-langit dan bumi yaitu gerhana bulan yang terjadi pada malam pertama dibulan Ramadhan dan gerhana matahari yang terjadi pada pertengahan bulan tersebut dan keduanya belum pernah terjadi sejak Allah menciptakan langit-langit dan bumi).

Dan hadits ini tidak bisa dijadikan sebagai hujah karena derajatnya tidak shahih dari beberapa sisi:

Pertama:

’Amru bin Syamir Al-Ju’fi kuniyahnya Abu Abdullah, Imam Nasa’i berkata dalam kitab Ad-dhuafa wa Al-matrukin: ’Amru bin Syamir haditsnya ditingggalkan dia orang Kufah. Ibnu Hibban berkata dalam kitab Al-Majruhin: ”dia adalah pengikut kelompok rafidhah (syi’ah) yang biasa mencela para sahabat Rasulullah shallallahu ’alaihi wasallam dan termasuk yang meriwayatkan hadits-hadits palsu dari perawi yang tsiqat berkaitan dengan keutamaan Ahli bait dan lainnya, tidak dihalalkan menulis haditsnya kecuali karena takjub dan terheran-heran. Telah memberitakan kepada kami Muhammad bin Ishaq maula Tsaqif berkata: telah menceritakan kepada kami Mufadhal bin Ghassan berkata: aku mendengar Yahya bin Ma’in berkata: ’Amru bin Syamir tidak boleh ditulis haditsnya”.

Ibnu Abi Hatim berkata dalam kitab ”Al-Jarhu wa At-Ta’dil”: telah memberitakan kepada kami Abdur Rahman berkata: Abu Zar’ah ditanya tentang ’Amru bin Syamir maka beliau berkata: dia lemah haditsnya” Imam Bukhari berkata: dia munkar haditsnya, dan banyak lagi komentar para ahli hadits terhadap ’Amru bin Syamir.

Kedua:

Jabir bin Yazid Al-Ju’fi dari ahli kufah kuniyahnya Abu Yazid, Ibnu Hibban berkata dalam Al-Majruhin: dia adalah Saba’i termasuk sahabat Abdullah bin Saba’ dan dia mengatakan bahwa Ali radhiallahu anhu akan kembali kedunia .
Telah menceritakan kepada kami Ishaq bin Ahmad Al-Qathan telah menceritakan kepada kami Abbas bin Muhammad: aku mendengar Yahya bin Ma’in berkata: Jabir Al-Ju’fi tidak boleh ditulis haditsnya, telah menceritakan kepada kami Muhammad bin Sulaiman bin Faris telah menceritakan kepada kami Muhammad bin Ismail Al-Bukhari telah menceritakan kepada kami Al-Humaidi: aku mendengar Sufyan bin Uyainah berkata: Jabir Al-Ju’fi beriman dengan akidah raj’ah.Dan beberapa komentar ulama lainnya yang senada dengannya.

Ketiga:

Muhammad bin Ali adalah bin Husain bin Ali bin Abi Talib Abu Ja’far Al-Baqir tsiqah fadhil termasuk peringkat keempat, maka hadits itu terputus sebagaimana telah ditetapkan dalam ilmu mustalah hadits maka tidak sah dijadikan hujah karena tidak boleh menolak perkataan Nabi shallallahu ’alaihi wasallam dengan perkataan orang lain.

Keempat:

hadits tersebut munkar karena bertentangan dengan hadits yang telah disepakati keshahihannya dari haditsnya ’Aisyah radhiallahu anha berkata:
(Telah terjadi gerhana matahari dizaman Rasulullah shallallahu ’alaihi wasallam lalu beliau shalat bersama manusia dengan berdiri yang lama kemudian ruku yang lama kemudian berdiri lagi dengan lama tetapi tidak selama yang pertama kemudian beliau ruku dengan lama tetapi tidak selama yang pertama kemudian sujud dengan lama kemudian beliau melakukan pada rakaat yang kedua seperti yang dilakukan pada rakaat pertama kemudian beliau selesai shalat ketika matahari sudah terang kembali lalu beliau berkhutbah dengan memuji Allah dan menyanjung-Nya kemudian berkata:

”Sesungguhnya matahari dan bulan adalah dua tanda kekuasaan Allah tidak terjadi gerhana karena kematian seseorang atau hidupnya seseorang maka jika kalian melihat kejadian itu maka berdoalah kepada Allah dan bertakbirlah dan sholatlah dan bersedekahlah”, kemudian beliau berkata: ”Wahai umat Muhammad demi Allah tidak ada yang lebih cemburu dari Allah ketika ada hambanya laki maupn perempuan yang berzina, Wahai umat Muhammad, demi Allah seandainya kalian tahu yang aku tahu niscaya kalian akan sedikit tertawa dan banyak menangis”).

Kesimpulan:

1-Hadist ini palsu mauquf kepada Muhammad bin Ali karena banyaknya perawinya yang lemah, dan hadits ini sesuai dengan perkataan Syeikh Albani rahimahullah: kegelapan diatas kegelapan, hampir semua tingkatan perawinya lemah, sebagaimana hadits itu juga bertentangan dengan riwayat yang shahih dari Nabi shallallahu ’alaihi wasallam maka tidak boleh menolak perkataan Nabi shallallahu ’alaihi wasallam dengan perkataan selainnya, jika kita memahami hal ini maka jelaslah kesesatan kelompok Qadiyaniah ketika berhujah dengan hadits ini untuk dakwaan palsu mereka.

Diriwayatkan juga atsar ini dari Al-Baqir dengan jalan yang lebih kuat tetapi menyelisihi tanggal kusuf dan khusuf yang disebutkan pemalsu hadits ’Amru bin Syamir dalam riwayatnya, lalu kenapa pengikut Qadiyani tidak menerima riwayat-riwayat tersebut ?

2-Riwayat yang palsu tersebut sama sekali tidak menyebutkan gerhana matahari dan bulan pada tanggal 13 dan 28 Ramadhan tetapi pada tanggal 1 dan 15 Ramadhan.

3-Malam gerhana pertama di Qadiyan adalah malam 12 dari bulan Qamariyah bukan malam 13 sebagaimana klaim pengikut Qadiyaniah.

4-Tidak mungkin terjadi gerhana matahari pada tanggal 27 dari bulan Qamariyah sebagaimana klaim pengikut Qadiyaniah, karena supaya terjadi gerhana bulan pada tanggal 27 harus tertunda penglihatan anak bulan untuk dua setengah hari !

5-Gerhana matahari dan bulan serentak dibulan Ramadhan terjadi hanya selama 23 tahun sekali, adapun Mirza mengklaim bahwa gerhana seperti ini tidak pernah terjadi sejak Allah menciptakan langit dan bumi.

6-Imam Ad-Daruquthni yang meriwayatkan atsar dari syi’ah ini beliau secara terang mendhaifkan ’Amru bin Syamir perawi hadits dalam kitab yang sama yang menyebutkan atsar ini. Bahkan perawi pemalsu ini telah dilemahkan oleh para ulama baik dari ahli sunah maupun syi’ah.

7-Perlu diperhatikan kesalahan tahun Mirza Ghulam Ahmad mengklaim sebagai Al-Mahdi,yang benar dia mengklaimnya pada tahun 1891 M bukan 1882 M.

(ar/voa-islam.com)

Tentang gerhana matahari dan bulan pada Bulan Ramadhan kita bisa membaca penjelasannya di sebuah situs (www.irshard.org).  Penjelasannya sebagai berikut:

Exposing Qadiani Falsehood on the Internet and on TV
The Fraud of Eclipses

Based on a Hadith they attribute to the Messenger of Allah(SAW), the Qadiani (Ahmadi) leadership asserts that the advent of lunar and solar eclipses during the Islamic month of Ramadhan of 1894 is the clear proof that Mirza Ghulam Ahmad Qadiani was the foretold Imam Mahdi! Mirza Ghulam himself had written:

“One Hadith of Dar-e-Qatni also proves that the Promised Mahdi will appear at the head of 14th Century; and that hadith is this ….translation of the whole hadith is:

‘There are two signs of our Mahdi; since the creation of earth and heaven this sign has not been revealed for any appointed and prophet and messenger; and those signs are that moon will eclipse in the first night of its fixed nights of eclipse and sun will get eclipsed in the middle of the fixed days for its eclipse, during the month of Ramadhan.’

…this hadith clearly fixes 14th Century.” (Roohani Khazain, Vol. 17, P. 331)

However, the actual hadith recorded in Dar-e-Qatni clearly reads:

Narrated Amr son of Shamir, quoting Jabir, who quoted Mohammad bin ‘Ali:

“For our Mahdi, two signs are given which never occurred in the past from the creation of the heavens and the earth. One is that a lunar eclipse will occur on the first night of Ramadhan and the second sign is that a solar eclipse will occur in the middle of Ramadhan and these signs had never happened from the creation of the heavens and the earth.” (Dar-e-Qatni, Vol. 1, P. 188)

With regard to this hadith, we need to make the following observations:

1.This hadith is not a saying of hazrat Muhammad(SAW), as the Qadiani leadership has tried to portray, but it is a saying attributed to an individual by the name of Mohammed bin ‘Ali. Thus, once more the falsehood of Qadiani leadership becomes apparent. According to an authentic hadith of hazrat Muhammad(SAW):

Ascribing false things to me is not like ascribing false things to anyone else. Whosoever tells a lie against me intentionally then surely let him occupy his seat in Hell-Fire.
(Hadith Sahih Bukhari, Volume 2, Book 23, Number 378)

2.This hadith attributed to Mohammad bin ‘Ali has been rejected by scholars of hadith for centuries. In fact, the first narrator of this hadith is Amr bin Shamir who is a known narrator of weak and fabricated Ahadith. Allamah Shamsuddin Dhahbi(RA) who was an expert of the Funn-e-Rijaal (the art of Men Narrators) has written:

“According to its authenticity, this saying attributed to Imam Baqir is extremely weak, outcast, and rejected. Looking at the chain of narration, the first narrator is Amr bin Shamir who has been labeled (in Meezanul-E’tidaal, P. 262) as the big liar, a narrator of weak and fabricated Ahadith, a non-believer of Hadith, a person who used abusive words for the companions of the Messenger(SAW) and the Sahabah(RA); and according to Ilm-ul-Hadith, his narration is not written as Hadith.”

Amr bin Shamir had claimed to have heard this hadith from a person by the name of Jabir. Not only we can not trust this assertion of a known liar, but also Amr failed to disclose — perhaps purposely — which one of the many Jabirs he was referring to in this quote. Nevertheless, among the individuals by that name, we find Jabir Ja’fi, who was described by Imam Abu-Hanifah(RA):

“Among the liars that I met, no one was bigger liar than Jabir Ja’fi.”

Amr bin Shamir finally claims that this hadith was originally narrated by Mohammad bin ‘Ali. Qadianis assert that the Mohammad bin ‘Ali mentioned must have been Imam Baqir. However, we have had several narrators with this name and there is no proof or reason to believe that the person Amr intended was Imam Baqir. Indeed, since it was the habit of Amr bin Shamir to narrate weak and fabricated Ahadith and attribute them to well known, truthful, and trustworthy narrators, we are obligated to be very doubtful of this hadith.

3. Even if, for the sake of discussion, we were to accept this hadith at face value, it would only serve to expose the falsehood of Mirza Ghulam and the Qadiani propaganda machine. This saying clearly states that the lunar eclipse will happen in the beginning of the month of Ramadhan and the solar eclipse will occur in the middle of the month. However, this event is astronomically impossible and would be indeed miraculous if occurred.

The lunar and solar eclipses Qadianis advance as the proof of their claim occurred on the 13th and 28th day of Ramadhan respectively! It is then obvious that Mirza Ghulam, as was his habit, purposely changed the quote (by adding the words “of its fixed nights”) and twisted the true meaning of the hadith to lend appearance of legitimacy to his false claim. Furthermore, the hadith clearly states that this event has never occurred in the history, while the combination of eclipses on 13th and 28th of Ramadhan have occurred thousands of times throughout history.

Obviously, Qadiani leadership’s complete reliance on an unauthentic and misinterpreted saying of a person by the name of Mohammad bin ‘Ali proves that they have nothing but deceit on their side.

The False Argument of Qadiani (Ahmadi) Leadership

Refuted by Muslim scholars and contradicted the by an extensive body of scientific evidence, Mirza Ghulam and the Qadiani (Ahmadi) leadership acknowledged that according to the divine laws the lunar eclipse always occurs on 13th, 14th or 15th of a lunar month, and solar eclipse always occurs on 27th, 28th, or 29th of a lunar month. However, they advanced another baseless argument to misguide the uninformed.

They reasoned that by “first night of Ramadhan”, the hadith must have intended that first night a lunar eclipse could possibly occur (i.e. 13th); and by “middle of Ramadhan”, the hadith must have meant the middle night a solar eclipse could possibly occur (i.e. 28th)! Thus, they tried to justify the conclusion of their Sire, Mirza Ghulam, and claim that Mirza must have been Mahdi, since such an eclipse occurred during his life time!

With regard to this assertion, we need to make the following observations:

1. It is the habit of the Qadiani leadership to use such foolish and feeble interpretations to try to misguide the gullible. The words of the hadith (even though we have shown it to be an unreliable hadith not referred to our Prophet(SAW)) are quite clear: The lunar eclipse should occur on the “first night of Ramadhan” and the solar eclipse in the “middle of Ramadhan” (e.g. 15th). The hadith does not state the “first night from the nights of eclipses”, as Qadiani leadership would like everyone to believe. As we have shown, this is an addition made to the hadith by Mirza Ghulam himself.

2. This interpretation of Mirza Ghulam Qadiani and his associates is also shown to be absurd and false by the very hadith itself. The hadith concludes by stating “these signs had never happened from the creation of the heavens and the earth.” However, the combination of eclipses on the 13th and 28th of Ramadhan have occurred thousands of times throughout recorded history!

As an example, we quote 45 years of eclipses in life time of Mirza Qadiani. In these 45 years, 3 times such combination of eclipses occurred on 13th and 28th (see book by Mr. Keith, “Use of the Globes” and another book, “Hadaiqun-Nujoom”). Both these books list eclipses from the year 1801CE to 1901CE. Out of those a list of 45 years is produced in a book, ‘Doosri Shadadat-e-Aasmani’ written by Sayyid Abu-Ahmad Rahmani which again confirms that these pair of eclipses have occurred three times alone during the 45 years in question! Further references on the accurate theories of Lunar Eclipses can be found in a commentary written by David McNaughton, a South African astronomer working in UAE, who is considered to be an authority on this subject. Accurate and detailed calculations, using Jean Meeus’s Algorithm, was performed in 1998 by Khalid Shaukat for the 3 pairs of eclipses mentioned before and produced in the following table:
Schedule of Relevant Eclipses in 45 Years of Mirza’s Life
No. Eclipse Gregorian
Date Islamic Date
in India Time of eclipse in India
Description

Remark
1 Lunar July 13,
1851 CE Ramadhan 13, 1267 AH Starts 11:21
Max. 12:51
Ends 14:22 Moon was below horizon in Qadian when eclipse occurred. Moon eclipse was not visible in India. Moreover, this happened before Miraz’s claim of Mahdi when he was 11 or 12 years old.
Solar July 28,
1851 CE Ramadhan 28, 1267 AH Starts 17:47
Max. 20:04
Ends 22:20 Eclipse was visible little before sunset in Qadian, sunset being at 19:31.
2 Lunar March 21,
1894 CE Ramadhan 13, 1311 AH Starts 18:58
Max. 19:51
Ends 20:44 Eclipse seen in Qadian After Sunset, which is the 14th of Ramadhan. This pair of eclipse actually goes against the Qadiani argument of 13th and 28th of Ramadhan!!! However, these eclipses were visible in other parts of the world and using this sign, Dr. Alexander Dowie claimed to be Messiah in the USA.
Solar April 6,
1894 CE Ramadhan 29, 1311 AH Starts 6:57
Max. 9:24
Ends 11:52 Eclipse was visible in the morning, sunrise in Qadian was at 6:11.
3 Lunar March 11,
1895 CE Ramadhan 13, 1312 AH Starts 7:25
Max. 9:10
Ends 10:54 Moon was below horizon in Qadian when eclipse occurred. Moon eclipse was not visible in Qadian.
Solar March 26,
1895 CE Ramadhan 28, 1312 AH Starts 14:21
Max. 15:40
Ends 17:00 Eclipse was visible in Qadian in the afternoon.

From the previous table, we can clearly see that this combination of eclipses has occurred at least more than once throughout the history. Furthermore, please note that the pair of eclipses claimed by the Qadianis actually occurred in Qadian on the 14th and 28th of Ramadhan and not the 13th and 28th! In either case, Qadiani argument is shown to be once more false.

As is their habit, the Qadiani (Ahmadi) leadership once more ignored clear evidence contrary to their faulty argument and resorted to further misrepresentation. They claimed that the intent of the words “these signs had never happened from the creation of the heavens and the earth” was that these eclipses have never occurred while a claimant to being Mahdi or Messiah has been present! To support this argument and rejected the proof offered by Muslim scholars showing the feebleness of his arguments, Mirza Ghulam wrote:

“O Low Caste, Khabees, Enemy of Allah and Prophet! You have done this Jewish alteration in the (prophecy), so that this Grand Miracle of Holy Prophet(SAW) is hidden from this world …..your lie, O Worthless is exposed …… from which word did these stupid understood these meanings? O Morons! O Sightless! Disgrace to the Molviyat! …especially the head of the Dajjaleens, Abdul Haq Ghaznavi and his followers; Hundred thousand times shoes of curses may fall upon them. O Dirty Dajjal! Prophecy has been fulfilled but bigotry has blinded you.”
(Zamima Anjam-e-Atham, Roohani Khazain, Vol. 11, P. 330)

“This has never happened and absolutely never happened, except in my time, since the beginning of universe till now, that lunar and solar eclipse had gathered in the month of Ramadhan in such a manner that some claimant of messengership or prophethood or muhaddathiyat (one who converse with God) had also been present.”
(Roohani Khazain, Vol. 9, P. 50)

“The meaning of prophecy is that this sign has not been to any other claimant, whether true or false. Only given to the Promised Mahdi. If these tyrant molvis (Muslim scholars) can present a similar occurrence of lunar and solar eclipse in the time of some other claimant then please do it; then I will no doubt become a liar.”
(Roohani Khazain, Vol. 11, P. 332)

“Combination of lunar and solar eclipse in Ramadhan has never taken place in the time of any Prophet or Messenger or muhaddith and since the birth of universe during the time of any claimant of messengership or prophethood or muhaddithiyat lunar and solar has never combined. Combination of Lunar and Solar eclipse and Mahdi is an unnatural phenomenon.” (Roohani Khazain, Vol. 9, P. 84)

It is a sign of disbelief and hypocrisy of Qadiani leadership that they refute clear proofs and authentic hadiths of the holy Prophet(SAW) regarding Mahdi and insist upon their conjecture of an unauthentic saying attribute to Mohammad bin ‘Ali by a known liar! Certainly, no believer would require any further explanation to see the falsehood of the Qadiani claims. However, purely from an academic stand point, we offer the following observation:

1. The prophecy of this unauthentic hadith is abundantly clear: the sign which has not occurred since the beginning of time is the specific combination of eclipses on the first and fifteenth day of Ramadhan. There is no mention whether this sign will occur before the birth, during the life, upon the claim, after the claim, or upon the death of the individual making the claim. Qadiani (Ahmadi) interpretation is simply without any merit.

2. Even if, for the sake of discussion, we were to accept the Qadianis’ (Ahmadis) feeble interpretation, we still can show that Mirza Ghulam was not the only individual who based his claim on such a combination of eclipses. Ample evidence for this stance is provided in the following books:
* ‘Doosri Shadadat-e-Aasmani’ by Maulana Abu Ahmad
* ‘Aimma-e-Talbis & Raees-e-Qadian’ by Maulana Abul Qasim Dilawari

Below, we have documented several such claimants. Please do remember that Mirza Ghulam had stated that if such proof could be provided, then he would be shown to have been a liar. Accurate and detailed calculations, using Jean Meeus’s Algorithm, was performed in 1998 by Khalid Shaukat for the following tables:
No. Eclipse Gregorian
Date Islamic
Date Name of the Claimant
Claim and Comment
1 Lunar 07-11-0743 Rmz 14, 125 Saleh bin Tarif Burghwati Claimed Mahdihood and Prophethood and successfully ruled over his followers for 47 years. Later, he advocated his throne in favor of his son. (Aimma-e-Tilbees, Vol. 1, P. 192)
The combination of Eclipses matched exactly those of Mirza Ghulam: 14th and 28th of Ramadhan
Solar 07-25-0743 Rmz 28, 125
2 Lunar 07-13-1851 Rmz 13, 1267 Mirza Ali Muhammad Bab Claimed to be Mahdi. His movement is still alive and has split off into Babism and Bahaism. They no longer claim to be Muslims.
(Double eclipses of 1829 and 1830 also could have been claimed for him; please note that Ali Muhammad died one month before the eclipse of 1851.
Solar 07-28-1851 Rmz 28, 1267
3 Lunar 11-15-1872 Rmz 13, 1289 Hussain Ali
Bahaullah Claimed to be the Promised One (Messiah) of every religion and a prophet. His followers no longer claim to be Muslims.
(Double eclipses of 1829, 1830, 1851, and 1873 also could be claimed by him)
Solar 11-30-1872 Rmz 28, 1289
4 Lunar 11-04-1873 Rmz 13, 1290 Mahdi Sudani Claimed to be Mahdi and began a successful movement to fight the British colonialists.
(Double eclipses of 1851, 1872 and 1895 also could be claimed by him).
Please note the specific solar eclipse used by him occurred on the 29th of Ramadhan.
Solar 11-20-1873 Rmz 29, 1290
5 Lunar
03-21-1894 Rmz 13, 1311 Dr. Alexander Dowie, USA During the life time of Mirza Ghulam and appropriating the second double eclipse we previously mentioned, he claimed to be the Promised Messiah.
(Double eclipses of 1851, 1872, 1873, and 1895 also could be claimed by him – please note that he made the claim for the same eclipses as Mirza Ghulam)
Solar 04-06-1894 Rmz 29, 1311

Once more, we can use Mirza Ghulam’s own statements to prove that he was a false claimant to being Mahdi, Messiah, and a Prophet.

For all those individuals, who after seeing all this proof, stubbornly insist on believing Mirza Ghulam’s claim to being Mahdi, we like to reproduce an earlier statement of Mirza:

“All those Hadiths in which the coming of Mahdi is foretold are not verifiable and cannot be relied upon.” (Haqeeqat-ul-Mahdi, Roohani Khazain, Vol. 14, P. 429)

We definitely disagree with Mirza Ghulam on this account and have in fact documented several authentic hadith of hazrat Muhammad(SAW) on this site [Read: Identification of the Prophesied Imam Mahdi]. However, isn’t this another sign of Mirza’s falsehood that he reversed course and attempted to take advantage of the eclipses which occurred during his life time by relying on deceitful alterations of an unauthentic Hadith?

Untuk lebih jelas bisa melihatnya di sumbernya yaitu : http://www.irshad.org/exposed/eclipse.php

Ada  info lain tentang gerhana di Bulan Ramadhan yang sumbernya berasal dari swaramuslim.net, Anda bisa membacanya dibawah ini:

Salam & Info Oleh : Redaksi 16 Nov 2003 – 5:45 pm
Bandung – Kepala Osbservatorium Bosscha Kabupaten Lembang, Jawa Barat Moeji Raharto mengatakan, terjadinya gerhana bulan dan gerhana matahari di bulan Ramadhan 1424 Hijriah merupakan fenomena alam biasa, hingga masyarakat tidak perlu khawatir secara berlebihan adanya fenomena alam tersebut.

“Secara astronomi kehadiran dua gerhana dalam satu bulan atau bulan Ramadhan, sudah biasa terjadi yang tidak berbeda jauh dengan kehadiran dua gerhana di bulan Rabiul Awal pada tanggal 16 Mei dan 19 Mei 2003 lalu,” ungkapnya kepada Antara, di Bandung, Minggu (16/03).

Moeji Raharto menyebutkan gerhana total bulan telah berlangsung pada tanggal 9 November 2003 kemarin, sedangkan gerhana total matahari akan terjadi pada tanggal 24 November 2003 nanti.

Menurutnya, fenomena alam gerhana bulan dan gerhana matahari yang datang bersamaan pada bulan Ramadhan sampai sekarang telah terjadi sekitar 60 kali terhitung dari sekitar 10 hijriah silam.

Fenomena alam tersebut yang terjadi pada bulan Ramadhan 1424 Hijriah, tidak berbeda jauh dengan kehadiran bulan purnama dan hilal. Oleh karena itu, katanya, masyarakat tidak perlu risau dengan akan kehadiran kiamat terlebih lagi saat ini pada bulan Ramadhan 1424 Hijriah hadir hujan meteor.

Dikatakannya, kehadiran dua gerhana dan hujan meteor di bulan Ramadhan merupakan hukum alam yang cukup menarik, hingga mengajak umat manusia dapat menyaksikan kebesaran Allah SWT.

“Terlebih lagi, saat ini tengah berlangsung bulan Ramadhan, hingga mengajak umat Islam dapat merasakan keagungan bulan Ramadhan 1424 Hijriah kali ini seiring kehadiran malam Lailatul Qodar,” paparnya. Pasalnya fenomena alam ini merupakan fenomena alam yang cukup menarik dimana kehadiran dua gerhana dan hujan meteor dapat berlangsung pada bulan Ramadhan 1424 Hijriah.

Di bagian lain, Moeji menyebutkan masyarakat Indonesia tidak akan dapat menyaksikan fenomena alam gerhana total bulan dan gerhana matahari, kecuali masyarakat yang berada di Benua Antartika.

Sedangkan di Benua Australia sendiri masyarakatnya hanya dapat menyaksikan sebagian gerhana tersebut. Demikian pula halnya untuk menyaksikan hujan meteor pada yang terjadi pada tanggal 13 November dan 14 November 2003 kemarin, kata Meoji yang terhalang oleh awan yang agak mendung.

“Karena itu, Observatorium Bosscha berharap pemantauan hujan meteor dapat disaksikan pada tanggal 18 November dan 19 November 2003 nanti, namun itupun hanya dapat menyaksikan satu atau dua meteor saja,” ucapnya.

Meski demikian, disebutkannya upaya menyaksikan fenomena alam tersebut juga kecil kemungkinan dapat terlihat karena kehadiran leonid meteor pada tanggal 19 November 2003 di Indonesia berlangsung pada siang hari. “Intinya fenomena alam gerhana bulan, gerhana matahari dan hujan meteor secara astronomi merupakan hukum alam biasa,” demikian Moeji Raharto. ant/abi/RioL.

Dari berita tsb para pembaca yang berakal sehat bisa menarik kesimpulan sendiri, apakah benar gerhana bulan dan matahari pd bulan ramadahan tsb adalah fenomena yang luar biasa dan hanya terjadi sekali sejak Allah mencipatakan bumi dan langit ini. Hal ini sudah terjawab oleh info yg diberikan oleh swaramuslim.net dan fenomena ini bukanlah sesuatu hal yang luar biasa karena terjadinya gerhana bulan & matahari dlm bulan ramadhan telah terjadi sekitar 60 kali terhitung dari sekitar 10 hijriah silam dan hal ini adalah hukum alam biasa.
Jadi kalau ahmadi berdalil dengan mengandalkan kejadian dua gerhana pd bulan ramadhan tsb sebagai bukti kebenaran dakwa dari Ghulam Ahmad sebagai Imam Mahdi menurut saya adalah suatu kesalahan besar.

Bisakah Ahmadiyah disebut jamaah Ilahi dengan terbongkarnya perbuatan mereka dengan mengamalkan hadits maudhu’ untuk membenarkan kenabian Mirza Ghulam Ahmad? Apakah pantas? Hal yang memalukan dan rendahan jika mengklaim sebagai jemaat ilahi tetapi mengamalkan hadits maudhu’ sedemikian rupa. Silahkan orang yang berakal merenungkan hal ini.

Muhammad bin Abdillah Shallallahu ‘alaihi wa sallam Penutup Pintu Kenabian (Bag. 2)

Oleh: ZK

Dalam mengartikan ayat khaatama (al)nnabiyyiina orang-orang ahmadiyah selalu berputar-putar dan berbeli-belit. Ada kalanya mengartikannya dengan “yang paling mulia” di antara semua Nabi, ada kalanya dengan “Cincin para nabi”, adakalanya “Cap atau stempel para nabi”. Dari arti-arti yang selalu berubah-ubah itu, setelah kalah berargumentasi dan terdesak akhirnya mereka terpaksa mengakui, bahwa maksud ayat khaatama (al)nnabiyyiina itu adalah “Nabi terakhir”. Namun demikian mereka tetap berkeras kepala dengan mengatakan bahwa maksud kalimat tersebut adalah “Nabi Terakhir yang membawa syariat saja”. Karena kata Al-nabiyyin dengan artikel alif lam ta’rif, memberi arti tertentu saja yaitu untuk nabi-nabi yang membawa syariat saja. Adapun Nabi yang tidak membawa syariat seperti Mirza Ghulam Ahmad umpamanya bisa saja datang sesudah Rasulullah SAW.

Sebenarnya pembagian Nabi yang membawa syariat dan Nabi yang tidak membawa syariat itu hanyalah pembagian fiktif yang sengaja diadakan oleh orang-orang Ahmadiyah qadian dengan maksud agar kenabian Mirza Ghulam ahmad dapat diterima oleh kaum Muslimin. Padahal apabila Al-Qur’an dipelajari dan secara jujur dan teliti, orang-orang Ahmadiyan Qadian akan menemukan kata Al-Nabiyyin disebut didalamnya sebanyak 16 kali yang kesemuanya memakai Alif Lam Ta’rif. Bahkan kata bentuk jama’ ini tidak pernah disebut tanpa memakai artikel Alif Lam Ta’rif dalam Kitab Suci Al-Qur’an. Jadi kata Al-nabiyyin ini sifatnya umum, termasuk Nabi-Nabi yang oleh orang-orang ahmadiyah qadian dikatakan tidak membawa syariat.

Menurut kamus aliran Ahmadiyah Qadian, bahwa kata khaatama itu apabila di mudhafkan pada isim jama’, maka artinya menjadi bukan penutup tetapi artinya menjadi “yang paling mulia”, dll seperti yang ada pada ayat khaatama (al)nnabiyyiina. Kaidah bahasa arab ala ahmadiyah qadiani ini sengaja diciptakan oleh mereka dengan tujuan untuk memalingkan arti ayat khaatama (al)nnabiyyiina dari arti yang sebenarnya sehingga orang-orang yang awam yang tidak mengerti tata bahasa arab dapat menerima arti ayat itu dengan arti yang paling mulia diantara semua Nabi, maka arti khaatama (al)nnabiyyiina dengan arti “penutup para Nabi” tidak berlaku lagi.

Berkaitan dengan arti kata tersebut, orang-orang Ahmadiyah Qadiani tampaknya tidak pernah menghayati do’a yang berbunyi:

Allahumma innii as’aluka min husni al-a’mali khawaatimah

Artinya:

“Ya Allah! Sesungguhnya hamba memohon kepada-Mu kebaikan amal-amal terakhir (yang menjadi penutup usia hamba)”.

Didalam do’a yang selalu dibaca Rasulullah SAW ini terdapat kata khawatima. Kata tersebut adalah bentuk jamak dari kata Khaatam, atau dari bentuk jamak kata khaatim serta bisa juga bentuk jamak dari kata khaatimah. Jadi dalam dalam do’a ini, kata khaatam di-mudhaf-kan pada bentuk jamak al-a’mali.

Do’a Rasulullah SAW tersebut senada dengan do’a yang lazim dibaca oleh kaum muslimin pada umumnya:

Allahummakhtimlana bihusnil khaatimati wala takhtim ‘alainaallah bisuu’il khaatimah

Artinya:

“Ya Allah, akhirilah hidup kami dengan husnul khaatimah (akhir hidup yang baik) dan jangan Engkau mengakhiri hidup kami dengan su’ul khaatimah (akhir hidup yang tidak baik).” (Lihat Imam Al-Ghazali, dalam Oh Anakku).

Imam Ghazali juga pernah memberikan bekal do’a kepada murid kesayangannya dengan do’a yang sering dibaca Raulullah SAW:

Allahummakhtim bilsa’aadati akhaalanaa

Artinya:

“Ya Allah, akhirilah ajal kami dengan kebahagiaan”.

Untuk lebih jelasnya disini dikemukakan delapan ayat Al-Qur’an yang terdapat didalamnya kata dasar khatama:

1.Dalam Surat Al-Baqarah ayat 7:

خَتَمَ اللَّهُ عَلَى قُلُوبِهِمْ وَعَلَى سَمْعِهِمْ وَعَلَى أَبْصَارِهِمْ غِشَاوَةٌ وَلَهُمْ عَذَابٌ عَظِيمٌ

Artinya: “Allah telah menutup hati mereka dan pendengaran mereka…..”.

2.Dalam Surat Al-An’am ayat 46:

قُلْ أَرَأَيْتُمْ إِنْ أَخَذَ اللَّهُ سَمْعَكُمْ وَأَبْصَارَكُمْ وَخَتَمَ عَلَى قُلُوبِكُمْ مَنْ إِلَهٌ غَيْرُ اللَّهِ يَأْتِيكُمْ بِهِ انْظُرْ كَيْفَ نُصَرِّفُ الآيَاتِ ثُمَّ هُمْ يَصْدِفُونَ

Artinya: “Katakanlah, terangkanlah kepadaku jika Allah mencabut pendengaran dan penglihatan serta menutup hatimu…”.

3.Dalam Surat Al-Jatsiyah ayat 23:

أَفَرَأَيْتَ مَنِ اتَّخَذَ إِلَهَهُ هَوَاهُ وَأَضَلَّهُ اللَّهُ عَلَى عِلْمٍ وَخَتَمَ عَلَى سَمْعِهِ وَقَلْبِهِ وَجَعَلَ عَلَى بَصَرِهِ غِشَاوَةً فَمَنْ يَهْدِيهِ مِنْ بَعْدِ اللَّهِ أَفَلا تَذَكَّرُونَ

Artinya: “Maka pernahkah kamu melihat orang yang menjadikan hawa nafsunya sebagai tuhannya dan Allah membiarkannya sesat berdasarkan ilmu-Nya dan Allah telah mengunci mati pendengaran dan hatinya”.

4.Dalam Asy-syura 24:

أَمْ يَقُولُونَ افْتَرَى عَلَى اللَّهِ كَذِبًا فَإِنْ يَشَأِ اللَّهُ يَخْتِمْ عَلَى قَلْبِكَ وَيَمْحُ اللَّهُ الْبَاطِلَ وَيُحِقُّ الْحَقَّ بِكَلِمَاتِهِ إِنَّهُ عَلِيمٌ بِذَاتِ الصُّدُورِ

Artinya: “Ataukah mereka mengatakan dia (Muhammad) telah mengada-ada suatu kedustaan atas nama Allah. Maka jika Allah menghendaki niscaya Dia menutup hati kamu”.

5.Dalam Surat Yasin ayat 65:

الْيَوْمَ نَخْتِمُ عَلَى أَفْوَاهِهِمْ وَتُكَلِّمُنَا أَيْدِيهِمْ وَتَشْهَدُ أَرْجُلُهُمْ بِمَا كَانُوا يَكْسِبُونَ

Artinya:”Pada hari kami tutup mulut mereka. Dan berkatakah pada kami tangan mereka memberi kesaksian kaki mereka terhadap apa yang dahulu mereka usahakan”.

6.Dalam Surat Al-Muthaffifin ayat 25:

يُسْقَوْنَ مِنْ رَحِيقٍ مَخْتُومٍ

Artinya: “Mereka diberi minum dari arak murni yang ditutup rapat”.

7.Dalam Surat al-Muthaffifin ayat 26:

خِتَامُهُ مِسْكٌ وَفِي ذَلِكَ فَلْيَتَنَافَسِ الْمُتَنَافِسُونَ

Artinya:”Tutupnya adalah kesturi dan untuk yang demikian itu hendaklah orang berlomba-lomba”.

8.Dalam Surat Al-Ahzab 40:

مَا كَانَ مُحَمَّدٌ أَبَا أَحَدٍ مِنْ رِجَالِكُمْ وَلَكِنْ رَسُولَ اللَّهِ وَخَاتَمَ النَّبِيِّينَ وَكَانَ اللَّهُ بِكُلِّ شَيْءٍ عَلِيمًا

Artinya”Tiadalah Muhammad itu Bapak seseorang dari laki-laki kamu, akan tetapi dia adalah utusan Allah dan penutup para Nabi”.

Jika dilihat masing-masing 8 ayat tersebut, maka akan ditemukan 5 kata kerja fi’il yang berasal dari kata dasar khatama; tiga diantaranya terdiri dari fi’il madhi dan dua yang lainnya terdiri dari fi’il mudhari. Sedangkan tiga lainnya terdiri dari Isim Maf’ul, mashdar dan as-shifah al-musyabahah yaitu kata khaatama.

Perlu diketahui, khususnya oleh para penganut ajaran Ahmadiyah qadian yang kurang memahami ilmu nahwu dan sharaf, bahwa yang disebut “as-shifah al-musyabahah” seperti kata khaatam adalah suatu sifat yang mempunyai makna yang bersifat tetap. Dengan demikian, arti kata khaatam itu adalah “Penutup”. Adapun suatu sifat yang tidak mempunyai makna tetap dalam bahasa arab disebut isim fa’il, sepeti kata khaatim yang artinya “yang menutup”. Jadi arti khaatama (al)nnabiyyiina adalah “Penutup para Nabi”. Sebab Allah SWT menggunakan kata khatama didalam Kitab Suci-Nya yang semuanya mempunyai arti dasar “menutup”. Dan Rasulullah sendiri yang lebih mengetahui ayat-ayat Al-Qur’an, telah menjelaskan khaatama (al)nnabiyyiina dengan ungkapan la nabiyya ba’di (tidak ada lagi nabi sesudahku). Dan juga para sahabat memaklumi bahwa arti ayat tersebut adalah “Penutup para Nabi”.

Namun Adapula yang berpendapat lain tentang nahwu shorof tersebut:

Pertama:

Bahwa kata “khaatama” pada Surat Al-Ahzab 40 adalah Fi’il tsulatsi mazid karena khaatama yang berwazan faa’ala mengikuti wazan dari fi’il madhi yaitu fa’ala.

Kedua:

Bermakna fi’il madhi (kata kerja bentuk lampau) menurut timbangan faa’ala (فاعل) dimana Nabiyyin manshub (difathahkan) dikarenakan dalam posisi maf’ul bihi. Maknanya adalah Aakhiruhum (yang terakhir dari para nabi). [Lihat Ruhul Ma’ani, 16/142].

Ketiga:

bermakna ismun fa’il (kata yang menunjukkan pelaku atau subyek) yang artinya adalah akhir (Aakhiru an-Nabiyyin).
Tidak dipungkiri bahwa kata “خاتم النبيين” para ulama sendiri memiliki qiro’ah (bacaan) yang berbeda. Ada yang membacanya “خَاتِمَ النَّبِيِّينَ” dengan mengkasrah huruf taa’ dan ada yang membaca خَاتَمَ النَّبِيِّينَ” dengan menfathah huruf taa’.
Qiro’ah (Bacaan) yang pertama “خَاتِمَ النَّبِيِّينَ” dengan huruf taa’ yang dikasrahkan maknanya adalah “آخر النبيين” yaitu yang terakhir dari para Nabi. Adapun yang membaca “خَاتَمَ النَّبِيِّينَ” dengan menfathah taa’, bermaknadengan huruf taa’ yang dikasrahkan maknanya adalah “إضافة الفعل إليه . يعني : أنه ختمهم وهو خاتم” mengidhafahkan fi’il (predikat) kepada beliau, maksudnya beliau adalah penutup/segel (para nabi). [Lihat Bahrul ‘Ulum karya as-Samarqondi, III/412].

Bagi kalangan Ahmadiyah Qadian, mereka berpendapat bahwa kata “khaatama” dalam Surat Al-Ahzab 40 tersebut adalah Isim Alat sehingga pengertian khaatama (al)nnabiyyiina jika digandengkan dengan isim jamak bisa berati yang paling mulia, paling Afdhol, paling sempurna, paling baik para nabi. Untuk mengetahui kebenaran apakah “khaatama” adalah isim alat atau tidak dan Cincin para nabi bisa diartikan paling mulia, paling Afdhol, paling sempurna, paling baik para nabi. Kami jelaskan sebagai berikut:

Pertama:

Kita lihat gambar dibawah ini :


Sumber: Disini

Dari gambar diatas menunjukkan bahwa Isim Alat berwazan Mif’aalun dan bukanlah berwazan faa’ala. Sehingga kata “Khaatama”  pada Surat Al-Ahzab 40 yang berwazan “Faa’ala” tidak bisa diartikan menurut pengertian Ahmadiyah Qadiani yaitu sebagai Cincin, Meterai, atau Stempel karena  “Khaatama” bukanlah Isim Alat .

Kedua:

Jika alasan Ahmadiyah qadiani bahwa khaatama (al)nnabiyyiina adalah  Jika diidhofahkan akan  menimbulkan pengertian paling mulia, paling Afdhol, paling sempurna, paling baik para nabi. Bagaimana mereka mengartikan ayat dibawah ini:

خِتَامُهُ مِسْكٌ وَفِي ذَلِكَ فَلْيَتَنَافَسِ الْمُتَنَافِسُونَ

Artinya:”Tutupnya adalah kesturi dan untuk yang demikian itu hendaklah orang berlomba-lomba”.(QS.Surat al-Muthaffifin ayat 26)

Bukankah “khitaamuhu Misk” adalah idhofah? Bukankah Khitaamuhu juga berasal dari kata khatama seperti halnya khaatama juga berasal dari kata khatama dalam Surat Al-Ahzab 40. Apakah arti “khitaamuhu misk” itu berarti adalah paling mulia, paling afdhol, paling sempurna, paling baik Kesturi?  Sama halnya pengertian yang telah diungkapkan oleh Ahmadiyah Qadiani bahwa khaatama (al)nnnabiyyiina adalah idhofah sehingga cincin para nabi bisa diartikan paling mulia, paling afdhol, paling sempurna, paling baik para nabi. Pengertian yang memang dasarnya bukan berasal dari Al-Qur’an pada akhirnya akan bertentangan pula dengan ayat lainnya.

Namun ada anggapan dari Ahmadiyah pula bahwa pengertian penutup kenabian bisa merendahkan martabat Rasulullah SAW.  Hal ini sangatlah berlebihan karena Surat Al-ahzab 40 menafikan pengklaiman kedudukan Nabi Muhammad sebagai seorang Bapak laki-laki bagi umatnya baik bapak dalam pengertian jasmani maupun bapak dalam pengertian rohani. Penyebutan para Istri Nabi sebagai Ummul Mu’minin atau Ibunya orang-orang yang Mu’min bukan berarti kita memerlukan Abdul Mu’minin atau Bapak orang-orang Mu’minin yang harus dinisbatkan kepada Nabi Muhammad Saw. Kedudukan Nabi Muhammad Saw jauh lebih agung daripada sekedar menjadi seorang bapak rohani, untuk itu beliau dinyatakan dalam kalimat penafian “Tetapi dia adalah Rasul Allah”, dan sebagai Rasul Allah, tugas dan fungsionarisnya sangat kompleks dan menyeluruh

Selanjutnya Nabi Muhammad juga dinyatakan sebagai “penutup para Nabi”, ini bukan satu penghinaan atau pelecehan bagi diri Rasul, malah ini menempatkannya dalam kedudukan yang tertinggi sebab beliau telah mendapatkan kemuliaan dari Allah untuk menjadi Nabi pamungkas yang memiliki risalah atau aturan hukum menyeluruh kepada segenap manusia yang sebelumnya terpecah dengan masing-masing Nabi tersendiri pada setiap tempat dan periodenya, disesuaikan dengan kondisi dan situasi mereka masing-masing.

Jika agama Islam sebelum Nabi Muhammad Saw disampaikan oleh Nabi dari masing-masing bangsanya, seperti Musa dan Isa yang hanya diperuntukkan kepada Bani Israel, tetapi Nabi Muhammad Saw diutus oleh Allah untuk seluruh umat manusia disegala tempat di penjuru dunia ini dan disepanjang masa. Dari semenjak Adam yang menjadi Nabi bagi putra-putrinya sendiri, disusul oleh Nabi Idris, Nabi Nuh, Nabi Hud, Nabi Shalih, Nabi Ibrahim, Nabi Luth, Nabi Ismail, Nabi Ishaq dan terus hingga kepada Nabi Musa dan Nabi Isa Almasih serta sejumlah besar Nabi dan Rasul yang tidak diceritakan didalam AlQur’an, semuanya diutus hanya kepada bangsa dan golongan mereka sendiri hingga sampai pada diutusnya Nabi Muhammad Saw.

Sebagai Nabi penutup, tugas dan tanggung jawab yang diemban oleh Muhammad sangatlah berat dan penuh resikonya, dia harus mampu menjadi contoh dan panutan, melebihi para pendahulunya. Muhammad harus bisa bersikap lebih tegas dibanding Musa, memiliki kesabaran dan ketakwaan yang tinggi sebagaimana yang telah dicontohkan oleh Ibrahim, Ismail dan Ayyub, Muhammad juga dituntut untuk memiliki kekayaan batin melebihi kekayaan yang dimiliki oleh Sulaiman, keperkasaannya dimedan perang harus dapat melebihi kegagahan Daud, penyampaiannya kepada Tuhan pun mesti melebihi penyampaian Adam sewaktu pertama diciptakan juga welas asihnya harus melebihi apa yang telah dipraktekkan oleh Isa Almasih putra Maryam.

Alangkah beratnya amanah pangkat yang dilimpahkan oleh Allah kepada beliau Saw, namun semua itu terbukti mampu dilakukannya dalam hidupnya yang lebih singkat dibanding usia para pendahulunya. Jadi justru dibalik kepenutupan Muhammad atas segala Nabi itu menyimpan hakekat yang teramat agung dan bukan sebaliknya, merendahkan derajatnya.

Oleh karena itu, beliau tidak membutuhkan pembantu atau pengiring yang berupa nabi baru, karena agama yang dibawanya sudah sempurna, beliau juga telah berhasil menanamkan agama itu dengan sukses diantara umat manusia. Dan adapun tugas untuk melanjutkan penetrapan agama dan ajaran-ajarannya kepada umat manusia yang datang kemudian, adalah terletak di atas pundak setiap kaum muslimin. Tiap-tiap kaum muslimin itu pada hakekatnya adalah pendakwah yang harus menyampaikan setiap ajaran agama yang diketahuinya kepada umat manusia yang belum tahu atau belum beriman. Ini dijelaskan oleh Allah SWT dalam surat Ali ‘Imran 104:

وَلا تَكُونُوا كَالَّذِينَ تَفَرَّقُوا وَاخْتَلَفُوا مِنْ بَعْدِ مَا جَاءَهُمُ الْبَيِّنَاتُ وَأُولَئِكَ لَهُمْ عَذَابٌ عَظِيمٌ


Dan hendaklah ada di antara kamu segolongan umat yang menyeru kepada kebajikan, menyuruh kepada yang ma’ruf dan mencegah dari yang munkar; merekalah orang-orang yang beruntung.(QS.Ali ‘Imran 3:104)

Bahwa pada bagian terakhir ayat Surat Al-Ahzab 40 dinyatakan “Allah Maha Mengetahui segala sesuatu”, sesungguhnya mengandung pesan dan tujuan yang besar. Persoalan Muhammad sebagai “penutup para Nabi” telah diketahui akan menimbulkan kontroversi dari manusia dengan penafsirannya yang berjuta macam.
Jemaah Ahmadiyyah menolak arti dari “Khatamannabi” sebagai kepenutupan Rasulullah Muhammad Saw sebagai Nabi Allah yang berarti terputusnya rantai wahyu kepada manusia dan pernyataan semacam ini justru merendahkan keagungan Nabi Muhammad dan sebagai penghalang rahmat kenabian kepada umat.

Sesuatu hal yang muskyil sekali apabila rahmat Allah akan menjadi terputus dengan posisi Muhammad selaku Nabi penutup, tidak ada satupun rahmat Allah yang dapat terputus dan tidak ada sesuatu yang mampu menghalangi kehendak-Nya apabila Dia sudah menetapkan perkara sesuatu.

مَا يَفْتَحِ اللَّهُ لِلنَّاسِ مِنْ رَحْمَةٍ فَلا مُمْسِكَ لَهَا وَمَا يُمْسِكْ فَلا مُرْسِلَ لَهُ مِنْ بَعْدِهِ وَهُوَ الْعَزِيزُ الْحَكِيمُ

“Apa saja yang Allah anugerahkan kepada manusia berupa rahmat, maka tidak ada seorang pun yang dapat menahannya; dan apa saja yang ditahan oleh Allah maka tidak seorang pun yang sanggup untuk melepaskannya sesudah itu. Dan Dia-lah Yang Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana.”(Qs. fathir 35:2)

قُلْ يَا عِبَادِيَ الَّذِينَ أَسْرَفُوا عَلَى أَنْفُسِهِمْ لا تَقْنَطُوا مِنْ رَحْمَةِ اللَّهِ إِنَّ اللَّهَ يَغْفِرُ الذُّنُوبَ جَمِيعًا إِنَّهُ هُوَ الْغَفُورُ الرَّحِيمُ

“Katakanlah: “Hai hamba-hamba-Ku yang melampaui batas terhadap diri mereka sendiri, janganlah kamu berputus asa dari rahmat Allah. Sesungguhnya Allah mengampuni dosa-dosa semuanya. Sesungguhnya Dialah Yang Maha Pengampun lagi Maha Penyayang”(Qs. az-Zumar 39:53)

فَخَرَجَ عَلَى قَوْمِهِ مِنَ الْمِحْرَابِ فَأَوْحَى إِلَيْهِمْ أَنْ سَبِّحُوا بُكْرَةً وَعَشِيًّا

Maka ia keluar dari mihrab menuju kaumnya, lalu ia memberi isyarat kepada mereka; hendaklah kamu bertasbih di waktu pagi dan petang (QS.Maryam 19:11)

Selain itu, dalam salah satu riwayat dikatakan bahwa Nabi Saw telah bersabda : “Allah tidak akan mengirimkan Nabi lagi sesudahku, tetapi hanya Mubashshirat” Dia menukas: Apakah al-Mubashshirat tersebut ?. Lanjut beliau : Mimpi yang baik serta petunjuk yang benar.”(Musnad Ahmad, Marwiyat Abu Tufail, Nasa’i, Abu Dawud).
Disini Rasulullah banyak memberikan arahan bahwa sepeninggal beliau Saw, tidak akan pernah ada lagi Nabi yang diutus untuk umat manusia, namun keterputusan wahyu kenabian ini tidak pernah menghalangi wahyu kebaikan bagi diri manusia, selama peradaban masih ada, langit tetap biru dan gunung-gunung tetap menjulang maka selama itu pula akan ada hamba-hamba Allah yang Shaleh yang menegakkan kebenaran dan keadilan berdasarkan apa yang sudah diwahyukan Allah melalui Nabi Muhammad Saw.
Allah, sebagaimana yang disabdakan oleh Nabi Muhammad Saw dalam hadist lainnya, akan menurunkan Mubassyirah kepada umat Islam selaku perpanjangan dan keterbukaan rahmat Allah Swt sepeninggal Rasulullah Saw. Bila dulu masing-masing kaum masih memerlukan kedatangan Nabi-nabi baru guna meluruskan penyimpangan-penyimpangan yang terjadi terhadap ajaran Nabi sebelumnya, namun dengan turunnya Muhammad Saw yang membawa rahmat bagi seluruh alam, tidak ada lagi yang perlu diluruskan karena ajarannya bersifat universal, menyeluruh dan sangat manusiawi serta ilmiawi.
Risalah Islam yang dibawa oleh Muhammad tersebar keseluruh dunia oleh para sahabat dan kaum Muslimin yang sudah diatur oleh Allah sebagai “utusan-Nya”,  melahirkan manusia-manusia pandai yaitu ulama yang disebut dalam hadits adalah pewaris para nabi yang akan menyelaraskan Sunnah-Nya sesuai dengan Al-Qur’an. Dengan demikian, dari satu sudut pandang ini, umat manusia tidak lagi memerlukan adanya Nabi-nabi baru, manusia sudah memiliki al-Qur’an, manusia sudah memiliki as-Sunnah, manusia juga sudah diperintahkan untuk merujuk pada para sahababat, tabi’in dan tabi’ut tabi’in karena mereka adalah sebaik-baik generasi dan manusia pun sekarang sudah punya kemampuan ilmiah untuk membuktikan dan menyebarkan ajaran Islam selaku ulama.
Allah sendiri sudah berfirman dalam Surah al-Maidah ayat 3 betapa Risalah yang dibawa oleh Muhammad Saw sudah lengkap dan sempurna, tidak ada lagi yang perlu ditambah atau direnovasi.

حُرِّمَتْ عَلَيْكُمُ الْمَيْتَةُ وَالدَّمُ وَلَحْمُ الْخِنْزِيرِ وَمَا أُهِلَّ لِغَيْرِ اللَّهِ بِهِ وَالْمُنْخَنِقَةُ وَالْمَوْقُوذَةُ وَالْمُتَرَدِّيَةُ وَالنَّطِيحَةُ وَمَا أَكَلَ السَّبُعُ إِلا مَا ذَكَّيْتُمْ وَمَا ذُبِحَ عَلَى النُّصُبِ وَأَنْ تَسْتَقْسِمُوا بِالأزْلامِ ذَلِكُمْ فِسْقٌ الْيَوْمَ يَئِسَ الَّذِينَ كَفَرُوا مِنْ دِينِكُمْ فَلا تَخْشَوْهُمْ وَاخْشَوْنِ الْيَوْمَ أَكْمَلْتُ لَكُمْ دِينَكُمْ وَأَتْمَمْتُ عَلَيْكُمْ نِعْمَتِي وَرَضِيتُ لَكُمُ الإسْلامَ دِينًا فَمَنِ اضْطُرَّ فِي مَخْمَصَةٍ غَيْرَ مُتَجَانِفٍ لإثْمٍ فَإِنَّ اللَّهَ غَفُورٌ رَحِيمٌ

“Pada hari ini orang-orang kafir telah berputus asa daripada agama kamu. Karena itu, janganlah kamu takut kepada mereka, tetapi hendaklah kamu takut kepada-Ku. Pada hari ini telah Kusempurnakan untuk kamu agama kamu dan telah Ku-cukupkan atasmu ni’mat-Ku, dan Aku telah ridho Islam itu sebagai agama buat kamu.(Qs. al-Ma’idah 5:3)

Ibarat sebuah buku yang sudah diperbanyak dan tinggal lagi pihak penerbit atau pihak agen menyebarluaskan buku tersebut kepada masyarakat untuk kemudian para pembaca atau para cendikiawan memberikan penafsiran yang lebih luas terhadap kandungan isi buku tersebut sesuai dengan konteks keadaan yang berlaku (Dalam konteks agama para pembaca atau para cendikiawan inilah yang kita sebut ulama)
Berdasarkan dalil kesempurnaan agama seperti tersebut diatas, dan selaras dengan proses perkembangan masyarakat manusia yang telah mencapai pula tingkat kesempurnaannya, maka tidak diperlukan lagi kedatangan seorang nabi, karena tugas kenabian telah selesai. Selain daripada itu dapat pula ditambahkan bahwa kedatangan seorang nabi baru menuntut adanya tambahan dalam satu bagian aspek akidah yaitu mempercayai kenabiannya nabi baru itu, padahal akidah Islam sudah tidak memerlukan tambahan apapun.
Kaum muslimin umat Muhammad SAW tidak dapat dipersamakan dengan umat-umat terdahulu dalam kebutuhan kepada datangnya nabi sebagai pemimpin. Adanya banyak nabi yang telah datang kepada umat-umat terdahulu, tidak menjadi aksioma yang menunjukkan adanya banyak nabi pula dalam kalangan umat Muhammad SAW. Malahan sebaliknya, Nabi sendiri dalam salah satu haditsnya menjelaskan sebagai berikut:
“Bani Israil itu dipimpin oleh beberapa nabi, setiap kali seorang nabi meninggal, ia diganti oleh seorang nabi(lain), tetapi tidak ada nabi lagi sesudahku”.(Ibnu Hajar al-Asqalani, Fath al-Bari Sharh al-Bukhari, juz VII)
Hadits Nabi ini sesuai dengan firman Allah yang berbunyi:

رَبَّنَا وَابْعَثْ فِيهِمْ رَسُولا مِنْهُمْ يَتْلُو عَلَيْهِمْ آيَاتِكَ وَيُعَلِّمُهُمُ الْكِتَابَ وَالْحِكْمَةَ وَيُزَكِّيهِمْ إِنَّكَ أَنْتَ الْعَزِيزُ الْحَكِيمُ

Ya Tuhan kami, utuslah untuk mereka seorang Rasul dari kalangan mereka, yang akan membacakan kepada mereka ayat-ayat Engkau, dan mengajarkan kepada mereka Al Kitab (Al Qur’an) dan Al-Hikmah (As-Sunah) serta menyucikan mereka. Sesungguhnya Engkaulah yang Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana.(QS.Al Baqarah 2:129)
Firman Allah tersebut ini, menyatakan isi daripada do’a yang diajukan Nabi Ibrahim kepada-Nya tatkala Nabi Ibrahim selesai membangun atau memperbaiki Ka’bah bersama anaknya Ismail. yang mengandung pengharapan agar kepada segenap umat manusia akan diutus hanya seorang Rasul yang akan membacakan kepada mereka Al-Kitab. Maka dengan kedatangan Nabi Muhammad SAW sebagai Nabi terakhir, tidak ada nabi sesudahnya, terkabullah do’a Nabi Ibrahim itu.

Semoga apa yang ditulis ini bermanfaat bagi Anda.

Tafsir Az Zukhruf 57-59

Oleh: WR



وَلَمَّا ضُرِبَ ابْنُ مَرْيَمَ مَثَلا إِذَا قَوْمُكَ مِنْهُ يَصِدُّونَ

Dan tatkala putra Maryam (Isa) dijadikan perumpamnaan tiba-tiba kaummu bersorak karenanya. (QS.43:57)


Penjelasan:
Ayat ini menerangkan sikap orang-orang musyrik Mekah dalam mencari-cari alasan untuk mengingkari Nabi Muhammad saw, yang mengajak mereka agar menyembah Allah saja, tidak menyembah yang lain selain Dia. Yang mencari-cari alasan dan menetapkan Isa sebagai perumpamaan itu ialah Ibnu Zaba’ra. Maksud ayat ini sebagai berikut: Tatkala Ibnu Zaba’ra At Tamimi menjadikan suatu perumpamaan yang dianggapnya menakjubkan dengan menjadikan Isa sebagai perumpamaan untuk membantah Rasulullah, ia menyatakan: “Bukankah orang-orang Nasrani mengakui Isa sebagai putera Allah, karena itu mereka menyembahnya, sedangkan engkau hai Muhammad menyatakan bahwa Isa itu hanyalah seorang Nabi dan Rasul saja, serta seorang hamba Allah yang saleh? Jadi demikian halnya, tentulah Isa as, walaupun ia seorang Nabi, Rasul, dan orang yang saleh bersama orang Nasrani akan masuk ke dalam neraka nantinya. Karena kamu hai Muhammad menyatakan bahwa penyembah-penyembah berhala beserta yang disembahnya akan dibakar api neraka nanti, itu sebabnya kami rela dimasukkan ke dalam neraka bersama Isa as”. Mendengar perumpamaan Ibnu Zaba’ra itu orang-orang Quraisy yang mendengarnya tertawa terbahak-bahak karena mereka bergembira dan menganggap perumpamaan itu akan mematahkan hujah Rasulullah saw yang dikemukakan kepada mereka.
Mengenai ayat ini diriwayatkan oleh Muhammad bin Ishak di dalam kitabnya yang bernama “Sirah” bahwasanya Rasulullah saw pada suatu hari duduk di mesjid bersama Walid bin Mugirah, maka datanglah Nadar bin Haris dan duduk bersama mereka beberapa orang dan pemuka-pemuka orang Quraisy. maka Rasulullah saw membaca ayat yang artina: “Sesungguhnya kamu dan apa yang kamu sembah selain Allah adalah makanan neraka jahanam, kamu pasti masuk ke dalamnya”. Kemudian Rasulullah saw berdiri. Dan datanglah Ibnu Zaba’ra dan duduk. Maka berkatalah kepada Walid bin Mugirah, “Demi Allah, sesungguhnya Muhammad mengatakan bahwa kita dan sembahan-sembahan yang kita sembah sebagai tuhan adalah makanan neraka jahanam”. Maka berkata Ibnu Zaba’ra: “Demi Allah aku memperoleh bantahannya, tanyakanlah olehmu kepada Muhammad, “Apakah semua yang disembah selain Allah beserta penyembah masuk neraka? maka kita menyembah malaikat, orang Yahudi menyembah Uzair, dan orang Nasrani menyembah Al Masih Ibnu Maryam”. maka tercenganglah Walid dan orang-orang yang bersamanya di tempat itu karena perkataan Abdullah bin Zaba’ra, dan mereka menganggap bahwa Ibnu Zaba’ra, telah berhasil membantah dan mematahkan dalil Rasulullah. Maka disampaikanlah yang demikian kepada Rasulullah, beliau menjawab: “Barang siapa yang suka disembah selain Allah, maka dia beserta orang yang menyembahnya, hanya menyembah setan dan orang yang menyuruh mereka menyembahnya. Maka Allah menurunkan ayat yang artinya “Sesungguhnya orang-orang yang telah ada ketetapan yang baik dari Kami untuk mereka maka mereka itu dijauhkan dari neraka”. Hal ini berarti bahwa Isa dan ‘Uzair termasuk yang dimaksud oleh ayat ini; sedang mengenai Isa as turunlah ayat ini.


Asbaabun Nuzul:
Imam Ahmad mengetengahkan sebuah hadis dengan sanad yang sahih, demikian pula Imam Thabrani mengetengahkan hadis ini juga, kedua-duanya mengetengahkan hadis ini melalui Ibnu Abbas r.a. bahwasanya Rasulullah saw. berkata kepada orang-orang Quraisy, “Sesungguhnya tidak ada suatu kebaikan pun di dalam menyembah seseorang selain Allah swt.” Orang-orang Quraisy itu menjawab, “Bukankah kamu menduga, bahwasanya Isa adalah seorang nabi dan hamba yang saleh, tetapi ia disembah sebagai tuhan selain Allah.” Maka Allah menurunkan firman-Nya, “Dan tatkala putra Maryam (Isa) dijadikan perumpamaan…” (Q.S. Az Zukhruf, 57).


وَقَالُوا أَآلِهَتُنَا خَيْرٌ أَمْ هُوَ مَا ضَرَبُوهُ لَكَ إِلا جَدَلا بَلْ هُمْ قَوْمٌ خَصِمُونَ

Dan mereka berkata: “Manakah yang lebih baik tuhan-tuhan kami atau dia (Isa)? Mereka tidak memberikan perumpamaan itu kepadamu melainkan dengan maksud membantah saja, sebenarnya mereka adalah kaum yang suka bertengkar.(QS.43:58)


Penjelasan:
Selanjutnya orang-orang musyrik itu mengatakan kepada Nabi saw: “Hai Muhammad, manakah yang lebih baik menurut pendapatmu, dewa-dewa yang kami sembah ataukah Isa yang kamu anggap Nabi dan Rasul, sedangkan orang-orang Nasrani menyembahnya? Jika Isa yang lebih baik menurut pendapatmu tentulah ia akan dimasukkan ke dalam neraka bersama orang-orang yang memujanya. Jika demikian, biarlah kami masuk ke dalam neraka, bersama-sama sembahan kami dan Isa yang disembah orang Nasrani itu”.
Karena janji Allah SWT menyatakan bahwa orang-orang musyrik Mekah itu telah kehabisan dalil untuk membantah kebenaran yang dikemukakan Muhammad saw karena itu mereka mencoba-coba dengan asal membantah saja. Mereka tidak lagi mengemukakan dalil untuk mempertahankan kebenaran menurut keyakinan mereka, tetapi mereka hanya mencoba-coba berdebat untuk mempertahankan kebatilan yang mereka lakukan. Karena itu, firman Allah SWT menyatakan bahwa mereka dan sembahan yang mereka sembah selain Allah akan menjadi makanan neraka Jahanam. Perkataan ini ditujukan kepada berhala dan patung-patung yang mereka sembah, tidak termasuk di dalamnya ‘Uzair, Isa dan malaikat.


Asbaabun Nuzul:
Ayat 57 dan 58 di atas menceritakan kembali kejadian sewaktu Rasulullah membacakan di hadapan orang Quraisy Surat Al-Anbiya ayat 98 yang artinya Sesungguhnya kamu dan yang kamu sembah selain Allah adalah kayu bakar Jahannam. Maka seorang Quraisy bernama Abdullah bin Az Zab’ari menanyakan kepada Rasulullah s.a.w. tentang keadaan Isa yang disembah orang Nasrani apakah beliau juga menjadi kayu bakar neraka Jahannam seperti halnya sembahan-sembahan mereka. Rasulullah terdiam dan merekapun mentertawakannya; lalu mereka menanyakan lagi mengenai mana yang lebih baik antara sembahan-sembahan mereka dengan Isa a.s. Pertanyaan-pertanyan mereka ini hanyalah mencari perbantahan saja, bukanlah mencari kebenaran. Jalan pikiran mereka itu adalah kesalahan yang besar. Isa a.s. bahwa beliau disembah dan tidak pula rela dijadikan sembahan.


 

إِنْ هُوَ إِلا عَبْدٌ أَنْعَمْنَا عَلَيْهِ وَجَعَلْنَاهُ مَثَلا لِبَنِي إِسْرَائِيلَ

Isa tidak lain hanyalah seorang hamba yang Kami berikan kepadanya nikmat (kenabian) dan Kami jadikan dia sebagai tanda bukti (kekuasaan Allah) untuk Bani Israel.(QS.43:59)


Penjelasan:
Dalam ayat ini Allah SWT menekankan lagi tentang Isa as. Dinyatakan bahwa Isa adalah seorang hamba Allah yang telah diangkat menjadi Nabi dan Rasul yang diutus Allah kepada Bani Israel. Ia telah ditempatkan pada kedudukan yang tinggi di sisi Nya, dijadikan Nya sebagai tanda kekuasaan dan kebesaran Nya, ia diciptakan tanpa bapak dan merupakan penyimpangan dari proses kejadian manusia sebagaimana yang ditetapkan Nya. Kepada Isa telah diberikan beberapa mukjizat, namun semuanya itu tidak dapat dijadikan alasan menjadikan sebagai sembahan di samping Allah. Ia tidak dapat disucikan sebagaimana menyucikan Allah karena ia hanyalah seorang Nabi dan Rasul Nya.

Ada anggapan dari Ahmadiyah qadiani bahwa Ayat Az Zukhruf itu 57 ini menjelaskan kedatangan Matsil Isa atau manusia seperti Isa dan yang bersorak-sorak karena kedatangan Matsil Isa tersebut adalah kaum muslimin. Menurut anggapan kami pendapat Ahmadiyah ini merupakan pendapat yang salah yang bisa kami jelaskan sebagai berikut:

Pertama:
Ayat ini berbunyi demikian:


وَلَمَّا ضُرِبَ ابْنُ مَرْيَمَ مَثَلا إِذَا قَوْمُكَ مِنْهُ يَصِدُّونَ


Dan tatkala putra Maryam (Isa) dijadikan perumpamaan tiba-tiba kaummu bersorak karenanya.(QS.Az Zukhruf 43:57)

Dalam ayat tersebut disebutkan ابْنُ مَرْيَمَ مَثَلا yaitu Ibnu Maryam Matsalan dan bukan ابْنُ مَرْيَمَ مَثَلا (Matsalan/Matsil Isa) sesuai kepercayaan Ahmadiyah Qadiani . Inilah salah satu bentuk kedustaan yang dilakukan oleh Ahmadiyah untuk membenarkan keyakinannya. Sehingga ayat ini tidak bisa diartikan, “Dan tatkala perumpamaan dijadikan putra maryam tiba-tiba kaummu bersorak karenanya”.

Kedua:
Bagi kalangan ahmadiyah dalam Surat Az Zukhruf 57 tersebut bisa ditujukan kepada kaum quraisy dan bisa pula ditujukan kepada kaum muslim. Ini kesalahan yang kesekian kalinya dari pihak ahmadiyah dalam menterjemahkan sebuah ayat. Dalam ayat tersebut terdapat kata “Kaummu”. Kata “Kaummu” ini menunjukkan hanya satu kaum dan bukan lebih dari satu kaum. “Kaummu” adalah Tunggal dan bukan Jamak yaitu “Kaum-Kaumu”. Jadi ayat ini tidak bisa ditujukan kepada kaum muslimin umat Islam sekarang ini.

Ketiga:
Jika bin maryam yang dimaksud menurut Ahmadiyah qadiani dalam Surat Az-Zukhruf 57 adalah Manusia seperti Isa/Matsil Isa, bagaimana mungkin Suku Quraisy bersorak-sorak kepada seseorang yang belum datang dan memperbandingkannya dengan berhala-berhala mereka. Mustahil yang bersorak adalah kaum muslim karena ayat tersebut menyebut kata “KAUMMU”(Tunggal) dan bukan “KAUM-KAUMMU”(Jamak).

Keempat:


وَلَمَّا ضُرِبَ ابْنُ مَرْيَمَ مَثَلا إِذَا قَوْمُكَ مِنْهُ يَصِدُّونَ

Dan tatkala putra Maryam (Isa) dijadikan perumpamaan tiba-tiba kaummu bersorak karenanya.(QS.Az Zukhruf 43:57)

Melihat bunyi ayat diatas bahwa Isa ini dijadikan perumpaan dengan apa tidak begitu jelas atau masih samar. Contoh: “Si Fulan dijadikan perumpamaan”? Apakah kita bisa tahu Si Fulan diperumpamakan sebagai apa? Tentu bagi orang yang berakal akan mengatakan “tidak tahu” karena perumpaannya belum disebutkan. Maka dari itu kita baru bisa mengetahui perumpamaan Surat Az-Zukhruf 57 tsb pada ayat berikutnya yaitu Surat Az-Zukhruf 58 yang berbunyi:

وَقَالُوا أَآلِهَتُنَا خَيْرٌ أَمْ هُوَ مَا ضَرَبُوهُ لَكَ إِلا جَدَلا بَلْ هُمْ قَوْمٌ خَصِمُونَ

Dan mereka berkata: “Manakah yang lebih baik tuhan-tuhan kami atau dia (Isa)? Mereka tidak memberikan perumpamaan itu kepadamu melainkan dengan maksud membantah saja, sebenarnya mereka adalah kaum yang suka bertengkar.(QS.Az Zukhruf 43:58)
Dalam ayat ini demikian jelas bahwa tertulis “Manakah yang lebih baik tuhan-tuhan kami atau dia (Isa)?” . Dari ayat ini kita bisa mengetahui bahwa Putra Maryam pada ayat sebelumnya (QS.Az Zukhruf 43:58) diperumpamakan sebagai tuhan dan diperbandingkan dengan berhala-berhala kaum tersebut. Jadi mustahil kaum muslimin bersorak “MANAKAH YANG LEBIH BAIK TUHAN-TUHAN KAMI ATAU DIA(ISA)” karena kaum muslimin tidak pernah mempunyai tuhan lebih dari satu dan tidak pernah menganggap Isa sebagai tuhan.

Kelima:
Jika Ahmadiyah bersikeras Ayat ini ditujukan kaum muslimin maka mau tidak mau Ghulam Ahmad diperumpamakan sebagai tuhan dan bukan nabi karena ayat ini menyebut “Manakah yang lebih baik tuhan-tuhan kami atau dia (Isa)?”.

Demikian penjelasan yang cukup jelas dari kami sehingga bisa mengungkap apa yang dimaksud dari Surat Az-zukhruf 57-58. Semoga penjelasan ini bisa pula mengungkap pendustaan-pendustaan makna Al-Qur’an yang dilakukan oleh ahmadiyah qadiani. Mereka berusaha mencari cara untuk membenarkan pendakwaan Ghulam Ahmad tanpa memikirkan dosa yang diterima dgn mendustakan arti ayat-ayat Allah dan mementingkan hawa nafsu mereka semata.




LAMPIRAN1:

Ini Sebuah Bukti dari Ahmadiyah bahwa Nabi Muhammad SAW sebagai  Nabi Terakhir. Sumber ini diambil  dari Buku Ahmadiyah.

Sumber:

“Da’watul Amir”, Mirza Bashiruddin Mahmud Ahmad, hal.204

 


LAMPIRAN 2

BUKU-BUKU AHmADIYAH

Sumber: “Jawaban Seruan Kepada Ahmadiyah”, Rukhdiyat Ayyubi Ahmad

Sumber: “Da’watul Amir, Mirza Bashiruddin Mahmud Ahmad, hal 152

 

 

 

Sumber: “MENGHAPUS SUATU KESALAHPAHAMAN (Ek Ghalati Ka Izala)” Oleh: Mirza Ghulam Ahmad Alih bahasa: M. A. Suryawan.

Sumber: http://islamic.us.to

Sumber: “Khabar Suka”, Mahmud Achmad cheema, Hal 18

 

Gelar Khaatam yang diberikan oleh Manusia

Oleh: TN

Bagi penganut ahmadiyah bahwa arti khaatam bukanlah penutup dengan alasan bahwa gelar yang disandang oleh manusia seperti Imam Suyuthi mendapat gelar “khaatam-ul-muhadditsin”, Abu tamam, seorang penyair muslim kenamaan diberi gelar oleh pengagumnya sebagai “khaatam-usy-syu’araa” dan masih banyak lagi orang-orang yang terkenal lainnya diberi gelar oleh pengagumnya dengan mengaggunakan insial “khaatam”. Jika khaatam yang ada pada gelar-gelar itu diartikan dengan penutup, menurut ahmadiyah akan menjadi janggal serta bertentangan dengan kenyataan. Menurut ahmadiyah, Apakah setelah Imam Suyuthi tidak ada lagi ahli Hadits di dunia ini? Apakah setelah Abu Tamaam wafat tidak ada penyair lagi? Dari kenyataan ini orang-orang ahmadiyah qadiani mengatakan kata khaatam tidak bisa diartikan dengan penutup.

Perlu dipahami bahwa suatu istilah yang lazim dipinjam untuk dikenakan kepada wujud lain, istilah tsb tidak bisa diartikan secara harfiah dan persis seperti pengertian yang berlaku bagi shahibul-istilah karena istilah khaatam yang dipinjam dan dikenakan untuk wujud lain seperti yang dikemukakan oleh orang-orang Ahmadiyah Qadiani tersebut diatas itu tidak bisa diartikan dengan arti yang sama seperti istilah khaatam yang disandang oleh Nabi Muhammad SAW meskipun mempunyai pengertian penutup, sebab sifat khaatam(penutup) yang ada pada Nabi Muhammad SAW itu sifatnya tidak terbatas sampai hari kiamat. Karena beliau SAW sendiri telah menjelaskannya melalui hadits. Sedangkan istilah khaatam(penutup) yang ada pada wujud-wujud lainnya sifatnya terbatas, selama belum ada yang lain melebihi daripadanya. Disamping itu tidak tersirat sedikitpun dalam benak orang yang memberikan gelar itu, bahwa kata “khaatam” yang mereka kenakan mempunyai arti sama dengan istilah “khaatam” yang dimiliki Nabi Muhammad SAW.

Perlu kita perhatikan lagi di sini, bahwa gelar yang diberikan oleh sang pencipta sangatlah berbeda dengan gelar yang hanya diberikan oleh si hamba. Khaataman Nabiyyin (penutup para nabi) adalah gelarnya Nabi Muhammad -shollallohu alaihi wasallam- yang diberikan oleh Alloh SWT yang maha tahu apa pun yang telah terjadi, sedang terjadi, dan akan terjadi di masa mendatang. Gelar yang Alloh berikan berdasarkan Ilmu-Nya, yang maha mengetahui segala sesuatu. Gelar pemberian Alloh sangat berbeda dengan gelar pemberian hamba yang serba ciut ilmunya. Ia hanya tahu apa yang disaksikan dan didengarnya. Andaikan saja gelar-gelar seperti khaatam-usy-syu’araa, khaatam-ula’imma, khaatam-ulmujahidiin, khaatam-ul-muhaqqiqin, khaatamul-muhaditsiin, khaatama-tul-huffaaz, khaatam-ulmufassirin, khaatam-ul-wilayah, dll itu dibenarkan, tentunya gelar tersebut hanya berlaku pada saat orang yang memberikan gelar itu masih hidup. Karena gelar tersebut adalah hasil pengamatan dia saja yang tentunya pengamatan tersebut akan berubah sesuai dengan perjalanan masa. Itulah perbedaan antara gelarnya Sang Pencipta dengan gelarnya si hamba yang hina di hadapan-Nya.

Seharusnya Ahmadiyah qadiani tidak gegabah dalam mencerna maksud dan artinya. Sebab yang demikian akibatnya dapat merusak atau bahkan menghancurkan pengertian ajaran agama, terutama yang menyangkut masalah-masalah aqidah.