Gelar Khaatam yang diberikan oleh Manusia

Oleh: TN

Bagi penganut ahmadiyah bahwa arti khaatam bukanlah penutup dengan alasan bahwa gelar yang disandang oleh manusia seperti Imam Suyuthi mendapat gelar “khaatam-ul-muhadditsin”, Abu tamam, seorang penyair muslim kenamaan diberi gelar oleh pengagumnya sebagai “khaatam-usy-syu’araa” dan masih banyak lagi orang-orang yang terkenal lainnya diberi gelar oleh pengagumnya dengan mengaggunakan insial “khaatam”. Jika khaatam yang ada pada gelar-gelar itu diartikan dengan penutup, menurut ahmadiyah akan menjadi janggal serta bertentangan dengan kenyataan. Menurut ahmadiyah, Apakah setelah Imam Suyuthi tidak ada lagi ahli Hadits di dunia ini? Apakah setelah Abu Tamaam wafat tidak ada penyair lagi? Dari kenyataan ini orang-orang ahmadiyah qadiani mengatakan kata khaatam tidak bisa diartikan dengan penutup.

Perlu dipahami bahwa suatu istilah yang lazim dipinjam untuk dikenakan kepada wujud lain, istilah tsb tidak bisa diartikan secara harfiah dan persis seperti pengertian yang berlaku bagi shahibul-istilah karena istilah khaatam yang dipinjam dan dikenakan untuk wujud lain seperti yang dikemukakan oleh orang-orang Ahmadiyah Qadiani tersebut diatas itu tidak bisa diartikan dengan arti yang sama seperti istilah khaatam yang disandang oleh Nabi Muhammad SAW meskipun mempunyai pengertian penutup, sebab sifat khaatam(penutup) yang ada pada Nabi Muhammad SAW itu sifatnya tidak terbatas sampai hari kiamat. Karena beliau SAW sendiri telah menjelaskannya melalui hadits. Sedangkan istilah khaatam(penutup) yang ada pada wujud-wujud lainnya sifatnya terbatas, selama belum ada yang lain melebihi daripadanya. Disamping itu tidak tersirat sedikitpun dalam benak orang yang memberikan gelar itu, bahwa kata “khaatam” yang mereka kenakan mempunyai arti sama dengan istilah “khaatam” yang dimiliki Nabi Muhammad SAW.

Perlu kita perhatikan lagi di sini, bahwa gelar yang diberikan oleh sang pencipta sangatlah berbeda dengan gelar yang hanya diberikan oleh si hamba. Khaataman Nabiyyin (penutup para nabi) adalah gelarnya Nabi Muhammad -shollallohu alaihi wasallam- yang diberikan oleh Alloh SWT yang maha tahu apa pun yang telah terjadi, sedang terjadi, dan akan terjadi di masa mendatang. Gelar yang Alloh berikan berdasarkan Ilmu-Nya, yang maha mengetahui segala sesuatu. Gelar pemberian Alloh sangat berbeda dengan gelar pemberian hamba yang serba ciut ilmunya. Ia hanya tahu apa yang disaksikan dan didengarnya. Andaikan saja gelar-gelar seperti khaatam-usy-syu’araa, khaatam-ula’imma, khaatam-ulmujahidiin, khaatam-ul-muhaqqiqin, khaatamul-muhaditsiin, khaatama-tul-huffaaz, khaatam-ulmufassirin, khaatam-ul-wilayah, dll itu dibenarkan, tentunya gelar tersebut hanya berlaku pada saat orang yang memberikan gelar itu masih hidup. Karena gelar tersebut adalah hasil pengamatan dia saja yang tentunya pengamatan tersebut akan berubah sesuai dengan perjalanan masa. Itulah perbedaan antara gelarnya Sang Pencipta dengan gelarnya si hamba yang hina di hadapan-Nya.

Seharusnya Ahmadiyah qadiani tidak gegabah dalam mencerna maksud dan artinya. Sebab yang demikian akibatnya dapat merusak atau bahkan menghancurkan pengertian ajaran agama, terutama yang menyangkut masalah-masalah aqidah.

About ahmadiyah

Check Also

Tafsir Az Zukhruf 57-59

Oleh: WR وَلَمَّا ضُرِبَ ابْنُ مَرْيَمَ مَثَلا إِذَا قَوْمُكَ مِنْهُ يَصِدُّونَ Dan tatkala putra Maryam …

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *