Kenabian Terakhir dalam Pandangan Para Ahli

Oleh : TN

Pendapat Para Ahli tentang Makna khaatam:

Ibnu Faris, salah seorang ulama besar dalam Ilmu Bahasa berpendapat bahwa makna asli dari khaatam adalah mengakhiri sesuatu. Dalam bahasa Arab disebutkan Khatamtul ‘amala bermakna “aku menyelesaikan pekerjaan”. Demikian pula jika menyatakan khatamal qari’u ash-shurata berarti “pembaca al-Qur’an mengkhatamkan (menuntaskan) surah yakni ia membaca surah tersebut sampai akhir. Dengan demikian, kata khaatam bermakna “menutup sesuatu” karena pekerjaan terakhir dalam menjaga sesuatu adalah dengan jalan menutup wadah atau tempatnya. Kata khaatam baik dengan hutuf ta yang berharakat fathah maupun kasrah bermakna demikian karena sudah menjadi kebiasaan mengakhiri surat atau tulisan dengan stempel atau cincin yang menjadi stempel. Mengecap surat berarti bahwa surat tersebut telah berakhir. Nabi Muhammad SAW disebut sebagai khaatamul anbiya karena Nabi terakhir utusan Allah dan yang dimaksud dengan khitamuhu misk yang disebutkan dalam al-Qur’an adalah sesuatu yang terakhir yang tercium ketika meminum minuman tersebut adalah wangi kesturi. (Sumber: Al-Maqayis, huruf kha, ta, mim)

Abul Baqa ‘Akbari salah seorang ulama terkenal terkait ayat walakin Rasulullahi wa khaataman nabiyyiin berpendapat bahwa khaatama dengan huruf ta berharakat fathah atau dalam bentuk fi’il madhi merupakan bentuk mufa’alah yakni Nabi Muhammad SAW mengakhiri para utusan illahi. Demikian pula, para ahli lainnya berpendapat bahwa khaatam dengan huruf ta yang berharakat fathah adalah bermakna akhir atau terakhir. Ataupun ahli lain yang mengatakan bahwa kata tersebut adalah khaatamun nabiyyin bermakna maktumbihi annabiyun (Nabi-nabi diakhiri dengannya) maka bermakna “Nab-nabi utusan Allah diakhiri dengan Nabi Muhammad SAW. Kemungkinan diatas adalah jika huruf ta pada kata khaatam berharakat fathah. Adapun jika huruf ta dibaca dengan berharakat kasrah sebagaimana enam orang qurra sab’ah membacanya tetaplah bermakna “akhir atau terakhir”. Kesimpulannya, kemungkinan yang telah disebutkan, ayat diatas bermakna Muhammad SAW adalah Nabi terakhir utusan Allah dan tidak ada Nabi sepeninggal beliau. (Sumber: At-Tibyan i Irab al-Qur’an, jilid 2, hal.100)
Fairuz abadi, didalam kamusnya, menyebutkan khaatam bermakna “mengecap”. dalam bahasa Arab disebutkan khaatama ‘ala qalbihi bermakna “hatinya mengalami sesuatu sehingga ia tidak memahami dan kekotoran jiwa tidak keluar dari ruhnya” bagaikan botol yang telah ditutup yang tidak mungkin keluar sesuatu yang ada didalamnya dan tidak ada sesuatu yang bisa masuk kedalamnya. Jika dikatakan khaatama syay-u yaitu mencapai akhir sesuatu. (Sumber: Qamus al-Lughah, jilid 4, hal 102)
Jauhari dalam kamusnya menuliskan bahwa kata khaatam bermakna “sampai pada akhir” dan kata akhtatimu adalah lawan kata dari kata aftatihu yang bermakna memulai, mengawali, dan membuka. Sementara kata akhtatimu bermakna “mengakhiri atau menutup”. Kata khaatam baik dengan huruf ta yang berharakat fathah maupun kasrah memiliki arti yang sama. Kata khaatimatu syai yaitu akhir sesuatu dan kata khaatamul anbiya merupakan julukan Rasulullah SAW. (Sumber: Muktar ash-shihah, hal.130)
Ibnu Manzhur dalam kamus besarnya menuliskan bahwa khitamul qaum yaitu orang terakhir pada suatu kaum dan kata khaatam meruapakan salah satu julukan Rasulullah SAW sementara kata khaatamun nabiyyin dalam ayat walakin Rasulullahi wa khaataman nabiyyiin bermakna “Nabi terakhir”. (Sumber: Lisanul Arab, jilid 5 hal.55)
Abu Muhammad Damiri dalam Nzdzam berkata, khaatim dengan huruf ta yang berharakat kasrah bermakna “penutup”. (Sumber: At Taisir fi ‘ulumil Quran, hal.90)
Baidhawi seorang ahli tafsir terkenal berpendapat bahwa khaatamun nabiyyin bermakna “Nabi terakhir yang mengakhiri nabi-nabi utusan Allah”. Jika kita membaca sesuai dengan  qiraat ‘ashim yaitu dengan harakat fathah pada huruf ta, maka berarti “seorang nabi yang mengakhiri atau menutup rangkaian para nabi utusan Allah” sebagaimana sebuah surat dicap atau distempel ketika selesai. (Sumber: Anwar at-Tanzil. hal.342)
Raghib Isfahani dalam kamusnya al-mufradat menuliskan bahwa dalam bahasa arab, ketika mengucapkan khaatamul qur’an berarti “aku menyelesaikan al-Qur’an yakni membacanya sampai akhir”. Rasulullah SAW disebut sebagai khaatamun nabiyyin karena beliau mengakhiri kenabian yaitu dengan kedatangan beliau pintu kenabian tertutup.
Ibnu Khaldun seorang filosof dan ahli sejarah ternama dalam Muqaddimah menjelaskan bahwa mengecap surat atau surat-surat penting lain sangat membudaya dan terkenal di kalangan para pembesar sebelum Islam dan sesudah Islam. Bukhari dan Muslim dalam kitab shahih meriwayatkan ketika Rasulullah SAW ingin menulis sepucuk surat untuk penguasa romawi, para sahabat mengingatkan beliau dan berkata,”Penguasa Romawi tidak akan menerima surat yang tidak dicap. Rasul memerintahkan, untuk membuat cincin dari perak yang diatasnya bertuliskan Muhammad Rasulullah. Sejak saat itu, surat-surat beliau SAW dicap dengan cincin tersebut. Kemudian, Ibnu Khaldun melanjutkan dalam bahasa arab saat menyatakan khaatamtul amra artinya “aku mengakhirinya”. Begitu pula jika dikatakan khaatamtul qur’an maka berarti “aku membaca al-Qur’an hingga akhir. Khaatamun nabiyyin bermakna “Nabi terakhir”. Beliau juga menambahkan, mengecap surat dengan stempel atau cincin menandakan bahwa surat telah selesai dan maksud penulis telah berakhir serta menandakan kebenaran isi surat tersebut. Jika surat atau dokumen tidak memiliki stempel maka berarti belum selesai dan tidak berarti.

About ahmadiyah

Check Also

Muhammad bin Abdillah Shallallahu ‘alaihi wa sallam Penutup Pintu Kenabian (Bag. 2)

Oleh: ZK Dalam mengartikan ayat khaatama (al)nnabiyyiina orang-orang ahmadiyah selalu berputar-putar dan berbeli-belit. Ada kalanya …

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *