Tafsir Az Zukhruf 57-59

Oleh: WR



وَلَمَّا ضُرِبَ ابْنُ مَرْيَمَ مَثَلا إِذَا قَوْمُكَ مِنْهُ يَصِدُّونَ

Dan tatkala putra Maryam (Isa) dijadikan perumpamnaan tiba-tiba kaummu bersorak karenanya. (QS.43:57)


Penjelasan:
Ayat ini menerangkan sikap orang-orang musyrik Mekah dalam mencari-cari alasan untuk mengingkari Nabi Muhammad saw, yang mengajak mereka agar menyembah Allah saja, tidak menyembah yang lain selain Dia. Yang mencari-cari alasan dan menetapkan Isa sebagai perumpamaan itu ialah Ibnu Zaba’ra. Maksud ayat ini sebagai berikut: Tatkala Ibnu Zaba’ra At Tamimi menjadikan suatu perumpamaan yang dianggapnya menakjubkan dengan menjadikan Isa sebagai perumpamaan untuk membantah Rasulullah, ia menyatakan: “Bukankah orang-orang Nasrani mengakui Isa sebagai putera Allah, karena itu mereka menyembahnya, sedangkan engkau hai Muhammad menyatakan bahwa Isa itu hanyalah seorang Nabi dan Rasul saja, serta seorang hamba Allah yang saleh? Jadi demikian halnya, tentulah Isa as, walaupun ia seorang Nabi, Rasul, dan orang yang saleh bersama orang Nasrani akan masuk ke dalam neraka nantinya. Karena kamu hai Muhammad menyatakan bahwa penyembah-penyembah berhala beserta yang disembahnya akan dibakar api neraka nanti, itu sebabnya kami rela dimasukkan ke dalam neraka bersama Isa as”. Mendengar perumpamaan Ibnu Zaba’ra itu orang-orang Quraisy yang mendengarnya tertawa terbahak-bahak karena mereka bergembira dan menganggap perumpamaan itu akan mematahkan hujah Rasulullah saw yang dikemukakan kepada mereka.
Mengenai ayat ini diriwayatkan oleh Muhammad bin Ishak di dalam kitabnya yang bernama “Sirah” bahwasanya Rasulullah saw pada suatu hari duduk di mesjid bersama Walid bin Mugirah, maka datanglah Nadar bin Haris dan duduk bersama mereka beberapa orang dan pemuka-pemuka orang Quraisy. maka Rasulullah saw membaca ayat yang artina: “Sesungguhnya kamu dan apa yang kamu sembah selain Allah adalah makanan neraka jahanam, kamu pasti masuk ke dalamnya”. Kemudian Rasulullah saw berdiri. Dan datanglah Ibnu Zaba’ra dan duduk. Maka berkatalah kepada Walid bin Mugirah, “Demi Allah, sesungguhnya Muhammad mengatakan bahwa kita dan sembahan-sembahan yang kita sembah sebagai tuhan adalah makanan neraka jahanam”. Maka berkata Ibnu Zaba’ra: “Demi Allah aku memperoleh bantahannya, tanyakanlah olehmu kepada Muhammad, “Apakah semua yang disembah selain Allah beserta penyembah masuk neraka? maka kita menyembah malaikat, orang Yahudi menyembah Uzair, dan orang Nasrani menyembah Al Masih Ibnu Maryam”. maka tercenganglah Walid dan orang-orang yang bersamanya di tempat itu karena perkataan Abdullah bin Zaba’ra, dan mereka menganggap bahwa Ibnu Zaba’ra, telah berhasil membantah dan mematahkan dalil Rasulullah. Maka disampaikanlah yang demikian kepada Rasulullah, beliau menjawab: “Barang siapa yang suka disembah selain Allah, maka dia beserta orang yang menyembahnya, hanya menyembah setan dan orang yang menyuruh mereka menyembahnya. Maka Allah menurunkan ayat yang artinya “Sesungguhnya orang-orang yang telah ada ketetapan yang baik dari Kami untuk mereka maka mereka itu dijauhkan dari neraka”. Hal ini berarti bahwa Isa dan ‘Uzair termasuk yang dimaksud oleh ayat ini; sedang mengenai Isa as turunlah ayat ini.


Asbaabun Nuzul:
Imam Ahmad mengetengahkan sebuah hadis dengan sanad yang sahih, demikian pula Imam Thabrani mengetengahkan hadis ini juga, kedua-duanya mengetengahkan hadis ini melalui Ibnu Abbas r.a. bahwasanya Rasulullah saw. berkata kepada orang-orang Quraisy, “Sesungguhnya tidak ada suatu kebaikan pun di dalam menyembah seseorang selain Allah swt.” Orang-orang Quraisy itu menjawab, “Bukankah kamu menduga, bahwasanya Isa adalah seorang nabi dan hamba yang saleh, tetapi ia disembah sebagai tuhan selain Allah.” Maka Allah menurunkan firman-Nya, “Dan tatkala putra Maryam (Isa) dijadikan perumpamaan…” (Q.S. Az Zukhruf, 57).


وَقَالُوا أَآلِهَتُنَا خَيْرٌ أَمْ هُوَ مَا ضَرَبُوهُ لَكَ إِلا جَدَلا بَلْ هُمْ قَوْمٌ خَصِمُونَ

Dan mereka berkata: “Manakah yang lebih baik tuhan-tuhan kami atau dia (Isa)? Mereka tidak memberikan perumpamaan itu kepadamu melainkan dengan maksud membantah saja, sebenarnya mereka adalah kaum yang suka bertengkar.(QS.43:58)


Penjelasan:
Selanjutnya orang-orang musyrik itu mengatakan kepada Nabi saw: “Hai Muhammad, manakah yang lebih baik menurut pendapatmu, dewa-dewa yang kami sembah ataukah Isa yang kamu anggap Nabi dan Rasul, sedangkan orang-orang Nasrani menyembahnya? Jika Isa yang lebih baik menurut pendapatmu tentulah ia akan dimasukkan ke dalam neraka bersama orang-orang yang memujanya. Jika demikian, biarlah kami masuk ke dalam neraka, bersama-sama sembahan kami dan Isa yang disembah orang Nasrani itu”.
Karena janji Allah SWT menyatakan bahwa orang-orang musyrik Mekah itu telah kehabisan dalil untuk membantah kebenaran yang dikemukakan Muhammad saw karena itu mereka mencoba-coba dengan asal membantah saja. Mereka tidak lagi mengemukakan dalil untuk mempertahankan kebenaran menurut keyakinan mereka, tetapi mereka hanya mencoba-coba berdebat untuk mempertahankan kebatilan yang mereka lakukan. Karena itu, firman Allah SWT menyatakan bahwa mereka dan sembahan yang mereka sembah selain Allah akan menjadi makanan neraka Jahanam. Perkataan ini ditujukan kepada berhala dan patung-patung yang mereka sembah, tidak termasuk di dalamnya ‘Uzair, Isa dan malaikat.


Asbaabun Nuzul:
Ayat 57 dan 58 di atas menceritakan kembali kejadian sewaktu Rasulullah membacakan di hadapan orang Quraisy Surat Al-Anbiya ayat 98 yang artinya Sesungguhnya kamu dan yang kamu sembah selain Allah adalah kayu bakar Jahannam. Maka seorang Quraisy bernama Abdullah bin Az Zab’ari menanyakan kepada Rasulullah s.a.w. tentang keadaan Isa yang disembah orang Nasrani apakah beliau juga menjadi kayu bakar neraka Jahannam seperti halnya sembahan-sembahan mereka. Rasulullah terdiam dan merekapun mentertawakannya; lalu mereka menanyakan lagi mengenai mana yang lebih baik antara sembahan-sembahan mereka dengan Isa a.s. Pertanyaan-pertanyan mereka ini hanyalah mencari perbantahan saja, bukanlah mencari kebenaran. Jalan pikiran mereka itu adalah kesalahan yang besar. Isa a.s. bahwa beliau disembah dan tidak pula rela dijadikan sembahan.


 

إِنْ هُوَ إِلا عَبْدٌ أَنْعَمْنَا عَلَيْهِ وَجَعَلْنَاهُ مَثَلا لِبَنِي إِسْرَائِيلَ

Isa tidak lain hanyalah seorang hamba yang Kami berikan kepadanya nikmat (kenabian) dan Kami jadikan dia sebagai tanda bukti (kekuasaan Allah) untuk Bani Israel.(QS.43:59)


Penjelasan:
Dalam ayat ini Allah SWT menekankan lagi tentang Isa as. Dinyatakan bahwa Isa adalah seorang hamba Allah yang telah diangkat menjadi Nabi dan Rasul yang diutus Allah kepada Bani Israel. Ia telah ditempatkan pada kedudukan yang tinggi di sisi Nya, dijadikan Nya sebagai tanda kekuasaan dan kebesaran Nya, ia diciptakan tanpa bapak dan merupakan penyimpangan dari proses kejadian manusia sebagaimana yang ditetapkan Nya. Kepada Isa telah diberikan beberapa mukjizat, namun semuanya itu tidak dapat dijadikan alasan menjadikan sebagai sembahan di samping Allah. Ia tidak dapat disucikan sebagaimana menyucikan Allah karena ia hanyalah seorang Nabi dan Rasul Nya.

Ada anggapan dari Ahmadiyah qadiani bahwa Ayat Az Zukhruf itu 57 ini menjelaskan kedatangan Matsil Isa atau manusia seperti Isa dan yang bersorak-sorak karena kedatangan Matsil Isa tersebut adalah kaum muslimin. Menurut anggapan kami pendapat Ahmadiyah ini merupakan pendapat yang salah yang bisa kami jelaskan sebagai berikut:

Pertama:
Ayat ini berbunyi demikian:


وَلَمَّا ضُرِبَ ابْنُ مَرْيَمَ مَثَلا إِذَا قَوْمُكَ مِنْهُ يَصِدُّونَ


Dan tatkala putra Maryam (Isa) dijadikan perumpamaan tiba-tiba kaummu bersorak karenanya.(QS.Az Zukhruf 43:57)

Dalam ayat tersebut disebutkan ابْنُ مَرْيَمَ مَثَلا yaitu Ibnu Maryam Matsalan dan bukan ابْنُ مَرْيَمَ مَثَلا (Matsalan/Matsil Isa) sesuai kepercayaan Ahmadiyah Qadiani . Inilah salah satu bentuk kedustaan yang dilakukan oleh Ahmadiyah untuk membenarkan keyakinannya. Sehingga ayat ini tidak bisa diartikan, “Dan tatkala perumpamaan dijadikan putra maryam tiba-tiba kaummu bersorak karenanya”.

Kedua:
Bagi kalangan ahmadiyah dalam Surat Az Zukhruf 57 tersebut bisa ditujukan kepada kaum quraisy dan bisa pula ditujukan kepada kaum muslim. Ini kesalahan yang kesekian kalinya dari pihak ahmadiyah dalam menterjemahkan sebuah ayat. Dalam ayat tersebut terdapat kata “Kaummu”. Kata “Kaummu” ini menunjukkan hanya satu kaum dan bukan lebih dari satu kaum. “Kaummu” adalah Tunggal dan bukan Jamak yaitu “Kaum-Kaumu”. Jadi ayat ini tidak bisa ditujukan kepada kaum muslimin umat Islam sekarang ini.

Ketiga:
Jika bin maryam yang dimaksud menurut Ahmadiyah qadiani dalam Surat Az-Zukhruf 57 adalah Manusia seperti Isa/Matsil Isa, bagaimana mungkin Suku Quraisy bersorak-sorak kepada seseorang yang belum datang dan memperbandingkannya dengan berhala-berhala mereka. Mustahil yang bersorak adalah kaum muslim karena ayat tersebut menyebut kata “KAUMMU”(Tunggal) dan bukan “KAUM-KAUMMU”(Jamak).

Keempat:


وَلَمَّا ضُرِبَ ابْنُ مَرْيَمَ مَثَلا إِذَا قَوْمُكَ مِنْهُ يَصِدُّونَ

Dan tatkala putra Maryam (Isa) dijadikan perumpamaan tiba-tiba kaummu bersorak karenanya.(QS.Az Zukhruf 43:57)

Melihat bunyi ayat diatas bahwa Isa ini dijadikan perumpaan dengan apa tidak begitu jelas atau masih samar. Contoh: “Si Fulan dijadikan perumpamaan”? Apakah kita bisa tahu Si Fulan diperumpamakan sebagai apa? Tentu bagi orang yang berakal akan mengatakan “tidak tahu” karena perumpaannya belum disebutkan. Maka dari itu kita baru bisa mengetahui perumpamaan Surat Az-Zukhruf 57 tsb pada ayat berikutnya yaitu Surat Az-Zukhruf 58 yang berbunyi:

وَقَالُوا أَآلِهَتُنَا خَيْرٌ أَمْ هُوَ مَا ضَرَبُوهُ لَكَ إِلا جَدَلا بَلْ هُمْ قَوْمٌ خَصِمُونَ

Dan mereka berkata: “Manakah yang lebih baik tuhan-tuhan kami atau dia (Isa)? Mereka tidak memberikan perumpamaan itu kepadamu melainkan dengan maksud membantah saja, sebenarnya mereka adalah kaum yang suka bertengkar.(QS.Az Zukhruf 43:58)
Dalam ayat ini demikian jelas bahwa tertulis “Manakah yang lebih baik tuhan-tuhan kami atau dia (Isa)?” . Dari ayat ini kita bisa mengetahui bahwa Putra Maryam pada ayat sebelumnya (QS.Az Zukhruf 43:58) diperumpamakan sebagai tuhan dan diperbandingkan dengan berhala-berhala kaum tersebut. Jadi mustahil kaum muslimin bersorak “MANAKAH YANG LEBIH BAIK TUHAN-TUHAN KAMI ATAU DIA(ISA)” karena kaum muslimin tidak pernah mempunyai tuhan lebih dari satu dan tidak pernah menganggap Isa sebagai tuhan.

Kelima:
Jika Ahmadiyah bersikeras Ayat ini ditujukan kaum muslimin maka mau tidak mau Ghulam Ahmad diperumpamakan sebagai tuhan dan bukan nabi karena ayat ini menyebut “Manakah yang lebih baik tuhan-tuhan kami atau dia (Isa)?”.

Demikian penjelasan yang cukup jelas dari kami sehingga bisa mengungkap apa yang dimaksud dari Surat Az-zukhruf 57-58. Semoga penjelasan ini bisa pula mengungkap pendustaan-pendustaan makna Al-Qur’an yang dilakukan oleh ahmadiyah qadiani. Mereka berusaha mencari cara untuk membenarkan pendakwaan Ghulam Ahmad tanpa memikirkan dosa yang diterima dgn mendustakan arti ayat-ayat Allah dan mementingkan hawa nafsu mereka semata.




LAMPIRAN1:

Ini Sebuah Bukti dari Ahmadiyah bahwa Nabi Muhammad SAW sebagai  Nabi Terakhir. Sumber ini diambil  dari Buku Ahmadiyah.

Sumber:

“Da’watul Amir”, Mirza Bashiruddin Mahmud Ahmad, hal.204

 


LAMPIRAN 2

BUKU-BUKU AHmADIYAH

Sumber: “Jawaban Seruan Kepada Ahmadiyah”, Rukhdiyat Ayyubi Ahmad

Sumber: “Da’watul Amir, Mirza Bashiruddin Mahmud Ahmad, hal 152

 

 

 

Sumber: “MENGHAPUS SUATU KESALAHPAHAMAN (Ek Ghalati Ka Izala)” Oleh: Mirza Ghulam Ahmad Alih bahasa: M. A. Suryawan.

Sumber: http://islamic.us.to

Sumber: “Khabar Suka”, Mahmud Achmad cheema, Hal 18

 

About ahmadiyah

Check Also

Kepalsuan Hadits Ahmadiyah tentang Gerhana

Segala puji bagi Allah semoga shalawat dan salam tercurah kepada Nabi akhir zaman Muhammad bin …

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *